Ribuan Warga Meriahkan Kirab Buka Luwur Ratu Kalinyamat di Jepara
JEPARA, JATENGNOW.COM – Ribuan warga memadati ruas jalan utama di Jepara untuk menyaksikan Kirab Budaya Buka Luwur Ratu Kalinyamat yang berlangsung meriah, Kamis (9/4/2026).
Antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak awal acara, mulai dari jalan protokol hingga kawasan Pendopo R.A Kartini yang menjadi titik pemberangkatan kirab.
Prosesi diawali dengan tarian kolosal yang menggambarkan sosok Ratu Kalinyamat, yang dikenal dengan julukan Rainha de Japara. Pertunjukan teatrikal tersebut menjadi pembuka sebelum rombongan kirab bergerak menuju kompleks makam Mantingan.
Dari pendopo, iring-iringan berjalan perlahan menuju Kompleks Masjid Astana Sultan Hadlirin, yang merupakan tempat bersemayamnya sejumlah tokoh penting sejarah Jepara, termasuk Ratu Kalinyamat.
Sepanjang perjalanan, warga tampak memadati sisi jalan. Sebagian mengabadikan momen, sementara lainnya larut dalam suasana budaya khas Jepara tempo dulu yang kental dengan nuansa tradisi.
Tidak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan mancanegara serta mahasiswa asing juga turut hadir menyaksikan kirab. Mereka tampak berbaur dengan masyarakat, menikmati pengalaman budaya yang autentik.
Rombongan kirab tiba di kompleks makam Mantingan sekitar pukul 15.20 WIB, kemudian melanjutkan prosesi menuju makam Ratu Kalinyamat. Di lokasi tersebut, doa bersama dipanjatkan dengan khidmat sebelum dilaksanakan prosesi inti, yakni pembukaan luwur.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tradisi ziarah leluhur yang telah dilakukan sebelumnya.
“Kirab ini merefleksikan kekuatan. Kuda melambangkan tenaga luar biasa, dan kami di pemerintahan harus memiliki semangat yang sama untuk bekerja di tahun mendatang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan tahun ini tidak menampilkan arak-arakan besar seperti sebelumnya sebagai bagian dari efisiensi, namun tetap mengedepankan nilai-nilai budaya dengan penggunaan alat transportasi tradisional.
“Kami ingin budaya Jepara tetap hidup, agar anak cucu kita mengenalnya dan bangga akan warisan leluhur,” tambahnya.
Menjelang senja, rangkaian kirab budaya ditutup dengan suasana kebersamaan melalui tradisi makan tumpeng di kawasan makam Mantingan. Momen ini menjadi simbol rasa syukur, persatuan, serta harapan untuk masa depan yang lebih baik. (jn02)
