Ada Putra Kampung Main di Liga 2, Warga Sumbawa Barat Kompak Nobar Kendal Tornado FC
Gelandang Kendal Tornado FC, Aprianto (JatengNOW/Dok)
KENDAL, JATENGNOW.COM – Dukungan terhadap Kendal Tornado FC ternyata tak hanya datang dari tribun stadion. Jauh dari Kendal, tepatnya di Desa Kelanir, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, warga sebuah kampung rutin berkumpul untuk menyaksikan perjuangan tim Laskar Badai Pantura.
Kampung tersebut merupakan tempat asal gelandang Kendal Tornado FC, Aprianto. Setiap kali sang pemain bersama timnya bertanding, warga sekitar memiliki cara tersendiri untuk memberikan dukungan.
Mereka menggelar nonton bareng (nobar). Bahkan, jalan kampung yang biasanya menjadi akses aktivitas warga terkadang ditutup sementara agar masyarakat bisa berkumpul dan menikmati pertandingan bersama.
Aprianto menjadi sosok penting dalam cerita tersebut. Pemain berusia 27 tahun itu merupakan satu-satunya pemain yang masih bertahan di Kendal Tornado sejak berkompetisi di Liga Nusantara 2024/2025 hingga mengantarkan klub tersebut promosi ke kasta kedua sepak bola Indonesia.
Setiap jadwal pertandingan Kendal Tornado, Aprianto biasanya lebih dulu mengabari keluarganya. Informasi itu kemudian diteruskan kepada para tetangga yang sudah menantikan agenda nobar.
“Jadi setiap Kendal Tornado FC akan bertanding saya kabari keluarga, karena tetangga di kampung sudah nunggu untuk nonton bareng. Saya kirim uang Rp200 ribu untuk beli kopi,” ungkap Aprianto, Rabu (30/9/2026).
Antusiasme warga bahkan terkadang membuat Aprianto ikut kena tegur. Bukan karena performanya di lapangan, melainkan lantaran lupa memberi tahu ketika Kendal Tornado sedang bertanding.
“Bahkan bapak pernah dimarahi tetangga gara-gara nggak kasih kabar kalau Tornado lagi main. Karena mereka mencari hiburan,” tambahnya sembari tertawa.
Jarak yang jauh dari Kendal bukan menjadi penghalang bagi warga Kelanir untuk mengikuti perjalanan klub yang dibela Aprianto.
Persoalannya justru datang dari akses jaringan internet. Kondisi sinyal di kampung tersebut belum selalu mendukung untuk menonton pertandingan secara daring.
Karena itu, warga harus mencari alternatif agar layar pertandingan tetap bisa dinikmati bersama.
“Jadi mereka senang jika ada anak di kampungnya yang main bola di level nasional. Padahal di sana susah sinyal untuk nobar, jadi harus beli voucher untuk wifi,” kata Aprianto.
Bagi warga, keberadaan Aprianto di kompetisi sepak bola profesional menjadi kebanggaan tersendiri. Perjalanan pemain tersebut dari kampung hingga tampil di level nasional menjadi cerita yang ikut mereka ikuti dari waktu ke waktu.
Aprianto sendiri tak menutup mata dengan kondisi sepak bola di daerah asalnya. Menurut dia, olahraga tersebut masih menghadapi keterbatasan fasilitas, termasuk lapangan yang belum memenuhi standar.
Keterbatasan itu bahkan pernah dia rasakan ketika masih menjalani latihan di kampung.
Untuk menggantikan peralatan latihan, Aprianto mengaku pernah menggunakan benda-benda sederhana yang tersedia di sekitar rumah, seperti botol bekas hingga batok kelapa sebagai pengganti cone.
Perjalanan tersebut membuat sejumlah tetangganya kini ikut terkejut melihat dirinya mampu menembus sepak bola profesional dan bermain di Liga 2.
“Tetangga juga sempat tanya kok bisa saya bermain di Liga 2? Ya maklum orang kampung bisa di posisi sekarang ini. Ya pastinya mereka dan orang tua juga memberi doa dan nasihat untuk terus belajar dan menjaga diri,” kata mantan pemain Perseden Denpasar dan Pesekap Pekalongan tersebut.
Bagi Aprianto, dukungan warga kampung bukan sekadar soal menyaksikan pertandingan. Nobar menjadi ruang berkumpul dan hiburan bagi masyarakat, sekaligus bentuk kebanggaan karena ada putra daerah yang kini berjuang di panggung sepak bola nasional.
Dari sebuah kampung di Sumbawa Barat, dukungan itu terus mengalir setiap kali Kendal Tornado FC bertanding. Jarak boleh memisahkan, tetapi kecintaan terhadap sepak bola membuat warga tetap merasa dekat dengan perjuangan Aprianto dan Laskar Badai Pantura. (jn02)
