Bongkar Fakta Mayat di Siranda Semarang: Polda Jateng Kaji CCTV, PDAM Jamin Kualitas Air Aman

Bongkar Fakta Mayat di Siranda Semarang: Polda Jateng Kaji CCTV, PDAM Jamin Kualitas Air Aman (JatengNOW/Dok)
SEMARANG, JATENGNOW.COM — Misteri kematian Dion Kusuma Pratama (21) yang ditemukan tewas di dalam Reservoir Siranda, Semarang, pada Sabtu (16/8/2025), masih terus diselidiki. Polda Jawa Tengah memastikan komitmennya untuk mengungkap kasus ini, sembari meluruskan disinformasi yang meresahkan masyarakat terkait kualitas air PDAM.
Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, saat mendampingi Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Yudi Indardo. Keduanya memberikan keterangan pers bersama di lokasi kejadian untuk memastikan transparansi dan ketenangan publik.
“Hingga saat ini, penyidik dari Polrestabes Semarang telah memeriksa delapan orang saksi,” ujar Kombes Pol Artanto. Ia menambahkan, hasil Visum et Repertum (VER) terhadap jenazah korban juga diharapkan dapat menjadi petunjuk penting untuk mengungkap penyebab kematian Dion.
Berdasarkan rekaman CCTV, terungkap bahwa pada malam hari tanggal 30 Juli 2025, Dion datang ke lokasi bersama dua rekannya dengan berboncengan tiga. Rekaman menunjukkan Dion diturunkan dan ditinggalkan di dekat reservoir dalam kondisi yang tidak stabil. Setelah berjalan sempoyongan, Dion menghilang dari pantauan kamera. Karena tak kunjung pulang, keluarganya melaporkan kehilangan, yang kemudian berujung pada penemuan tragis ini.
Penemuan jenazah yang diduga telah tewas lebih dari dua minggu di dalam reservoir sempat memicu kekhawatiran publik. Banyak yang bertanya-tanya apakah air yang tercemar mayat tersebut sempat dialirkan ke rumah-rumah warga.
Menanggapi hal ini, Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Yudi Indardo, dengan tegas membantah isu tersebut. Ia menjelaskan, Reservoir Siranda sudah dua bulan lebih tidak digunakan untuk mengaliri pelanggan.
“Reservoir Siranda sejak bulan Maret 2025 hanya digunakan sebagai cadangan,” jelas Yudi. “Terakhir digunakan pada tanggal 5 Juli 2025, itu pun hanya untuk back up sekitar 3.000 pelanggan selama 7-8 jam. Sejak saat itu, reservoir tidak digunakan lagi sampai terjadi kasus penemuan mayat ini.”
Yudi menambahkan, karena fungsinya sebagai cadangan, tidak ada penjaga yang siaga 24 jam di lokasi. Pengecekan rutin hanya dilakukan dari luar, sementara pengecekan mendalam hanya dilakukan saat reservoir akan digunakan.
“Pengecekan terakhir dilakukan tanggal 5 Juli 2025. Jadi, selama kurun waktu korban dilaporkan hilang (30 Juli) hingga ditemukan (16 Agustus), Reservoir Siranda sama sekali tidak digunakan,” tegasnya.
Pasca-penemuan, reservoir tersebut langsung dikuras dan dibersihkan dengan disinfektan. Air yang tercemar juga dibuang melalui saluran pembuangan terpisah.
Kombes Pol Artanto mengimbau masyarakat agar tidak khawatir. “Kami harap masyarakat tidak perlu khawatir akan kualitas air yang digunakan. Kami mohon doa dan kerjasama agar kasus ini dapat segera terungkap,” pungkasnya. (jn02)