Brigade Pangan Jadi Andalan, Petani Rembang Kian Percaya Diri Garap Lahan di MT 2 dan MT 3
REMBANG – Pemerintah Kabupaten Rembang terus menguatkan langkah strategis dalam menjaga stabilitas produksi pangan daerah. Salah satu upaya yang kini dirasakan langsung manfaatnya oleh petani adalah kehadiran Brigade Pangan, program inisiatif Kementerian Pertanian yang fokus membantu optimalisasi lahan pada musim tanam berisiko tinggi, khususnya Musim Tanam (MT) 2 dan MT 3.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan bahwa tantangan terbesar produksi pangan di wilayahnya selama ini terletak pada MT 2 dan MT 3 akibat keterbatasan air. Kondisi tersebut membuat banyak petani enggan mengambil risiko tanam.
“PR utama kita ada di MT 2 dan MT 3. Ketika air terbatas, petani cenderung tidak berani tanam. Di sinilah peran Brigade Pangan hadir untuk membantu petani mengoptimalkan lahan agar produksi tetap terjaga,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, Brigade Pangan merupakan program strategis Kementerian Pertanian yang melibatkan petani milenial sebagai motor penggerak. Tujuannya tidak hanya menjaga swasembada pangan, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi di tengah perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
Selama ini, sebagian lahan pertanian di Rembang tidak dimanfaatkan secara maksimal pada MT 2 dan MT 3. Namun, melalui pendampingan Brigade Pangan, petani kini lebih siap karena mendapatkan dukungan teknis mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, hingga proses penanaman.
Divisi Pembibitan dan Operator Brigade Pangan Wilayah Tengah, Muhamad Winardi, menjelaskan bahwa Brigade Pangan di Rembang dibagi menjadi tiga wilayah kerja, yakni barat, tengah, dan timur. Masing-masing wilayah diperkuat oleh 15 personel, yang mayoritas merupakan petani muda.
“Pembagian wilayah ini bertujuan agar pendampingan di lapangan bisa lebih cepat, efektif, dan tepat sasaran,” terangnya.
Winardi menyebutkan, terdapat dua skema layanan yang ditawarkan Brigade Pangan kepada petani. Skema pertama, lahan dikelola sepenuhnya oleh Brigade Pangan tanpa biaya awal. Hasil panen kemudian dibagi, dengan 30 persen untuk Brigade Pangan dan sisanya untuk pemilik lahan.
Skema kedua, petani dapat memilih layanan tertentu sesuai kebutuhan, seperti pembibitan atau penanaman, dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan pengelolaan mandiri.
“Sebagai contoh di Desa Ketanggi, kami membantu pembibitan dan penanaman di lahan seluas 1.000 meter persegi dengan biaya sekitar Rp350 ribu. Ini jauh lebih hemat, sehingga biaya operasional petani bisa ditekan,” jelasnya.
Pada MT 1 tahun ini, permintaan layanan Brigade Pangan justru meningkat, terutama pada sektor pembibitan dan penanaman. Meski ketersediaan air relatif melimpah, banyak bibit yang telah menua sehingga memerlukan penanganan tambahan agar hasil tanam tetap optimal.
“Sekarang air memang cukup, tetapi bibit di lapangan sudah menua. Di sinilah peran Brigade Pangan menyediakan bibit baru dan membantu penanaman. Dalam 15 hari ke depan, kami juga akan mendampingi petani di wilayah Mondoteko,” imbuh Winardi.
Pemerintah Kabupaten Rembang berharap keberadaan Brigade Pangan dapat terus meningkatkan keberanian petani dalam memanfaatkan seluruh musim tanam, sekaligus menjaga stabilitas produksi pangan daerah secara berkelanjutan.
“Kami optimistis, dengan kolaborasi ini, produksi pangan Rembang bisa tetap terjaga dan petani semakin sejahtera,” pungkas Agus. (jn02)
