Desa Tangguh Bencana Perkuat Kemandirian Warga dalam Penanganan Bencana di Rembang

0
WhatsApp Image 2026-01-20 at 09.42.59

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Sri Jarwati (JatengNOW/Dok)

REMBANG, JATENGNOW.COM – Program Desa Tangguh Bencana (Destana) terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan serta kemampuan penanganan bencana secara mandiri di tingkat desa. Keberadaan Destana dinilai mampu memperkuat kapasitas warga dalam mengenali potensi bencana, merespons kejadian dengan cepat, serta melakukan upaya pengurangan risiko secara berkelanjutan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, mengatakan desa-desa yang telah membentuk Destana menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi kesadaran risiko maupun tindakan mitigasi awal.

“Alhamdulillah, desa yang sudah menjadi Destana mampu menangani kejadian bencana secara mandiri. Warga langsung bergerak melakukan kerja bakti dan penanganan awal sebelum melaporkan kepada BPBD. Ini menunjukkan kapasitas dan kepedulian masyarakat semakin meningkat,” ujar Sri Jarwati saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (19/1/2026).

Program Destana di Kabupaten Rembang mulai dijalankan pada 2018 dengan Desa Bendo, Kecamatan Sluke, sebagai sasaran awal. Selanjutnya pada 2020, BPBD Provinsi Jawa Tengah memperluas cakupan dengan membentuk Destana di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu.

Pada 2022, BPBD menetapkan 12 desa sebagai Destana, meliputi Desa Dowan (Gunem), Bitingan (Sale), Johogunung (Pancur), Manggar (Sluke), Lemah Putih (Sedan), serta tiga desa di Kecamatan Sumber yakni Ronggomulyo, Kedungtulup, dan Sekarsari. Selain itu, empat desa di Kecamatan Kaliori, yaitu Kuangsan, Maguan, Wiroto, dan Meteseh, juga ditetapkan sebagai Destana.

Pembentukan Destana berlanjut pada 2023 dengan penetapan 12 desa baru. Dua desa dibentuk langsung oleh BPBD Kabupaten Rembang, yakni Desa Criwik dan Banyuurip di Kecamatan Pancur. Sementara 10 desa lainnya merupakan hasil kolaborasi BPBD Kabupaten dan Provinsi di wilayah Kecamatan Kaliori, Pancur, dan Sluke.

Pada 2024, BPBD kembali menetapkan dua desa Destana, yaitu Desa Dadapan di Kecamatan Sedan dan Desa Sale di Kecamatan Sale. Kemudian pada 2025, dua desa baru kembali ditetapkan sebagai Destana, yakni Desa Leran di Kecamatan Sluke dan Desa Sendangmulyo di Kecamatan Lasem.

Selain itu, Desa Punjulharjo di Kecamatan Rembang ditetapkan sebagai Destana Mandiri, karena pembentukannya dilakukan secara swadaya oleh pemerintah desa tanpa menunggu fasilitasi dari BPBD.

Sri Jarwati yang akrab disapa Anjar menegaskan, percepatan pembentukan Destana menjadi prioritas BPBD Kabupaten Rembang guna mendukung target 100 Destana sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) Tahun 2025, terdapat 130 desa rawan bencana dari total 199 desa di Kabupaten Rembang yang direkomendasikan untuk membentuk Destana secara mandiri.

“Harapannya, semakin banyak desa yang tangguh, semakin kecil dampak bencana yang ditimbulkan. Kami terus mendorong kolaborasi antara pemerintah desa, relawan, dan masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan dari tingkat lokal,” pungkasnya. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *