Jateng Kejar Swasembada Pangan 2026, Produksi Padi Sudah Capai 39 Persen
Jateng Kejar Swasembada Pangan 2026, Produksi Padi Sudah Capai 39 Persen (JatengNOW/Dok)
SEMARANG, JATENGNOW.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah terus mengakselerasi program swasembada pangan dengan berbagai strategi terintegrasi guna mencapai target pada 2026.
Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa hingga awal 2026, sejumlah indikator produksi menunjukkan tren positif meskipun masih berada pada fase awal musim tanam.
Untuk komoditas padi, dari target 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG), realisasi hingga April 2026 telah mencapai sekitar 39,48 persen. Sementara produksi jagung berada di angka 26,62 persen dari target, dan kedelai masih dalam tahap awal dengan capaian sekitar 1,44 persen.
Pada sektor hortikultura, produksi bawang merah mencapai 23,45 persen dari target, sedangkan cabai berada di kisaran 17,72 persen. Di sektor peternakan, produksi daging telah mencapai 33 persen, telur 25,95 persen, dan susu sekitar 23,41 persen dari target tahunan.
Meski capaian masih bertahap, neraca pangan Jawa Tengah menunjukkan kondisi aman. Hingga Maret 2026, surplus beras tercatat sebesar 702.409 ton. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas daging dan telur selama triwulan pertama tahun ini.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini merata dan mampu menjaga stabilitas harga,” ujar Frans.
Untuk mendukung target produksi, Pemprov Jateng menyiapkan berbagai program strategis, mulai dari bantuan benih dan sarana produksi hingga pembangunan infrastruktur pertanian. Rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan irigasi perpipaan, serta distribusi alat dan mesin pertanian menjadi fokus utama.
Selain itu, perlindungan petani juga diperkuat melalui program asuransi usaha tani serta subsidi pembiayaan. Pemerintah turut melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan peningkatan kesehatan hewan melalui vaksinasi ternak.
Upaya ini juga mencakup pendekatan berkelanjutan, seperti peningkatan luas baku sawah, indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian modern.
Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama alih fungsi lahan yang pada 2025 tercatat mencapai 17.114 hektare dan berpotensi mengurangi produksi hingga 191.297 ton.
Guna mengatasi hal tersebut, Pemprov Jateng memperkuat sinergi lintas sektor bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, serta aparat keamanan.
Di tingkat kepemimpinan daerah, Ahmad Luthfi bersama Taj Yasin Maimoen terus mendorong percepatan swasembada pangan sebagai bagian dari program prioritas nasional yang diusung Prabowo Subianto.
“Kolaborasi menjadi kunci. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis Jawa Tengah mampu mencapai swasembada pangan sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan kesejahteraan petani,” pungkas Frans. (jn02)
