Keluarga Santriwati Korban Dugaan Pencabulan di Jepara Mengaku Diteror
Ilustrasi | Pelecehan terhadap Wanita (JatengNOW/Dok. IstockPhoto)
JEPARA, JATENGNOW.COM – Keluarga seorang santriwati yang diduga menjadi korban pencabulan oleh oknum kiai pengasuh pondok pesantren di Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, mengaku mengalami serangkaian teror sejak kasus tersebut mencuat ke publik.
Intimidasi disebut datang melalui nomor telepon tak dikenal hingga serangan verbal di media sosial. Situasi ini dikhawatirkan dapat mengganggu proses pemulihan psikologis korban yang saat ini masih berupaya bangkit dari trauma.
Kuasa hukum korban, Erlinawati, mengungkapkan tekanan mulai dirasakan pihak keluarga setelah pemberitaan kasus ramai di media.
“Nomor-nomor tak dikenal beberapa kali menghubungi. Ada yang mengirim pesan dengan diawali perkenalan. Bahkan beberapa nomor saya kenali,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Erlinawati menegaskan pihaknya telah mengarahkan keluarga korban untuk tidak merespons setiap panggilan maupun pesan mencurigakan tersebut.
“Ada yang menelepon terus, tapi saya arahkan untuk tidak direspons sedikit pun,” tegasnya.
Menurut dia, apabila pesan-pesan tersebut ditanggapi justru berpotensi memperburuk kondisi mental korban dan keluarganya.
Tekanan tidak hanya terjadi melalui pesan singkat. Di media sosial, sejumlah akun juga disebut melontarkan komentar bernada serangan, bahkan beberapa di antaranya dikenali oleh korban.
“Setiap kali ada serangan seperti itu, korban langsung menangis dan ketakutan karena teringat kejadian,” kata Erlinawati.
Ia menilai serangan digital tersebut merupakan bentuk intimidasi yang berpotensi menghambat proses pemulihan psikologis korban.
Saat ini, lanjutnya, korban telah mendapatkan pendampingan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Pendampingan dilakukan secara berkala untuk memastikan keamanan serta kondisi psikologis korban tetap terjaga.
“Pendamping selalu memantau korban secara berkala,” pungkasnya. (jn02)
