Nguri-uri Warisan Leluhur, Ketua FBM Kusumo Putro Apresiasi Jamasan Gangsa Sriwedari

0
IMG-20260707-WA0040

SOLO, JATENGNOW.COM – Pelaksanaan Kirab Budaya dan Jamasan Gangsa Sriwedari yang digelar di Plaza Taman Sriwedari dan Gedung Wayang Orang Selasa (7/7/2026), mendapat dukungan penuh dari berbagai komunitas budaya di Kota Surakarta. 

Tradisi tahunan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian warisan budaya sekaligus menghormati peninggalan leluhur.

Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Kusumo Putro, yang juga mewakili Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) serta Pembina Forum Komunikasi Sriwedari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tradisi yang harus terus dipertahankan dan dikembangkan.

Menurutnya, seluruh elemen masyarakat budaya di kawasan Sriwedari menyambut baik penyelenggaraan kirab budaya dan jamasan pusaka yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta.

“Kami ikut mangayubagyo dan turut serta dalam kegiatan kirab budaya serta jamasan gangsa yang dilaksanakan hari ini di Sriwedari. Harapannya kegiatan seperti ini terus dilaksanakan setiap tahun dan ke depan bisa semakin besar serta semakin meriah,” ujarnya.

Ia mengapresiasi seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung dengan lancar mulai awal hingga selesai. Komunitas budaya di kawasan Sriwedari, kata dia, siap mendukung berbagai agenda pelestarian budaya yang diselenggarakan pemerintah.

“Kami dari komunitas masyarakat Sriwedari mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pariwisata di kawasan Sriwedari. Terima kasih karena kami selalu dilibatkan dalam upaya nguri-uri tradisi leluhur,” katanya.

Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Kusumo Putro (JatengNOW/Dok)

BRM Kusumo Putro berharap Pemerintah Kota Surakarta terus memberikan perhatian terhadap kegiatan-kegiatan tradisi yang menjadi identitas Kota Solo sebagai kota budaya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi juga perlu dikembangkan agar semakin menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda.

“Kami berharap kegiatan ini tetap dilaksanakan setiap tahun dan semakin meriah. Pemerintah Kota Solo juga kami harapkan semakin peduli terhadap kegiatan-kegiatan tradisi seperti ini,” ungkapnya.

Dalam prosesi jamasan tahun ini, sejumlah pusaka yang dibersihkan secara simbolis antara lain Kyai Bagus, Nyai Denok, dan Kyai Slamet.

Ia menjelaskan, tradisi jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka, melainkan bentuk penghormatan kepada warisan budaya dan para leluhur, khususnya peninggalan masa pemerintahan Pakubuwono X.

“Jamasan ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur kita. Pusaka-pusaka tersebut merupakan bagian dari peninggalan sejarah, termasuk pada masa Pakubuwono X, sehingga tradisi ini penting untuk terus dijaga dan dilestarikan,” pungkasnya. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *