Sekolah Gratis Pemprov Jateng Jadi Harapan Baru, Ahmad Luthfi: Anak Miskin Tak Boleh Putus Sekolah
Sekolah Gratis Pemprov Jateng Jadi Harapan Baru, Ahmad Luthfi: Anak Miskin Tak Boleh Putus Sekolah (JatengNOW/Dok)
SEMARANG, JATENGNOW.COM – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau pelaksanaan hari pertama pembelajaran Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di SMA Laboratorium UPGRIS Semarang, Senin (13/7/2026). Program sekolah gratis tersebut menjadi solusi bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang belum berhasil lolos seleksi sekolah negeri agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Dalam kunjungan itu, Ahmad Luthfi berdialog langsung dengan sejumlah siswa dan orang tua penerima manfaat program. Salah satunya Rafa Fidianto, putra seorang pengemudi ojek, yang mengaku bersyukur tetap bisa mengenakan seragam SMA meski sebelumnya tidak diterima di sekolah negeri.
“Saya sempat mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya belum cukup. Senang bisa sekolah di sini karena bisa mendapat banyak teman,” ujar Rafa.
Ia berharap pendidikan yang ditempuh dapat mengantarkannya meraih cita-cita menjadi anggota TNI dan membanggakan kedua orang tuanya.
Kisah serupa juga disampaikan Kamdani, buruh tani yang merasa sangat terbantu dengan adanya Program Sekolah Kemitraan. Dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia mengaku kesulitan apabila harus membiayai pendidikan anaknya secara mandiri.
“Alhamdulillah anak saya masih bisa sekolah. Harapan saya, kehidupannya nanti lebih baik dan tidak sesulit orang tuanya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi memberikan motivasi kepada para siswa agar tidak merasa rendah diri karena berasal dari keluarga kurang mampu.
“Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesan Luthfi.
Menurutnya, kondisi ekonomi tidak boleh menjadi alasan seorang anak kehilangan hak memperoleh pendidikan.
“Mereka harus tetap sekolah. Jangan sampai ada anak putus sekolah hanya karena kondisi ekonomi keluarganya,” tegasnya.
Luthfi menjelaskan, Program Sekolah Kemitraan merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjamin akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Para peserta program berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yatim yang diasuh kerabat.
“Mereka tetap memiliki semangat untuk belajar. Negara harus hadir memberikan kepastian agar mereka memperoleh pendidikan yang layak,” katanya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemprov Jawa Tengah menggandeng 139 sekolah swasta, terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK. Melalui program tersebut, sebanyak 3.663 siswa diterima, terdiri atas 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.
Khusus di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa mengikuti Program Sekolah Kemitraan, yang tersebar di SMA Laboratorium UPGRIS sebanyak 24 siswa, SMK Bina Nusantara 21 siswa, dan SMK Ibu Kartini enam siswa.
Pada kesempatan itu, Pemprov Jawa Tengah juga menyerahkan perlengkapan sekolah dan sepatu kepada 55 siswa, sementara para orang tua menerima bantuan paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.
Gubernur turut mengingatkan seluruh kepala sekolah dan guru agar pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung aman, ramah, dan bebas dari praktik perundungan maupun perpeloncoan.
“Tidak boleh ada perpeloncoan, tidak boleh ada bullying yang membuat anak minder. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi semua siswa,” tegasnya.
Menutup kunjungannya, Luthfi mengajak seluruh siswa memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya untuk meraih cita-cita sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Kalian harus menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, memiliki cita-cita yang tinggi, dan mampu mengubah kehidupan diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih baik,” pungkasnya. (jn02)
