PWI Surakarta hingga AJI Solo Tolak Stigmatisasi Wartawan, Minta Prabowo Klarifikasi Pernyataan ‘Londo Ireng’

0
HH4C6359.jpg

PWI Surakarta hingga AJI Solo Tolak Stigmatisasi Wartawan, Minta Prabowo Klarifikasi Pernyataan 'Londo Ireng' (JatengNOW/Dok)

SOLO, JATENGNOW.COM – Sejumlah wartawan bersama elemen pers mahasiswa di wilayah Soloraya menggelar aksi damai di kawasan Monumen Pers Nasional, Solo, Selasa (28/7/2026). Dalam aksi tersebut, mereka menyatakan penolakan terhadap penggunaan istilah “londo ireng” yang dinilai memberikan stigma negatif terhadap profesi wartawan.

Aksi yang diikuti berbagai organisasi profesi kewartawanan dan lembaga pers mahasiswa itu juga mendesak Presiden Prabowo Subianto menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan yang dianggap berpotensi merendahkan profesi jurnalis.

Ketua PWI Surakarta, Sri Hartanto, menegaskan wartawan memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi melalui penyampaian informasi yang akurat sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

Menurutnya, penggunaan istilah “londo ireng” dalam pidato Presiden Prabowo pada peringatan Hari Lahir ke-28 PKB, 23 Juli 2026, dinilai berpotensi menciptakan stigma negatif terhadap profesi wartawan.

“Wartawan bekerja berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Karena itu kami menilai Presiden Prabowo perlu meminta maaf kepada wartawan atas pernyataan yang telah menimbulkan stigma terhadap profesi wartawan,” ujar Sri Hartanto.

Ia menegaskan kritik yang disampaikan media terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari fungsi kontrol dalam sistem demokrasi, sehingga tidak semestinya dipersepsikan sebagai bentuk permusuhan terhadap negara.

Sri Hartanto juga mengingatkan negara memiliki tanggung jawab menjamin kebebasan pers agar insan media dapat bekerja secara aman, independen, dan bebas dari intimidasi.

Soroti Ancaman Kebebasan Pers

Dalam aksi tersebut, Ketua AJI Solo, Ika Yuniati, menilai stigmatisasi terhadap wartawan menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Ia mengungkapkan berdasarkan catatan AJI Indonesia, sepanjang 2025 terjadi 89 kasus kekerasan terhadap wartawan di berbagai daerah.

Sementara itu, Ketua PFI Solo, Yoma Times Suryadi, menegaskan seluruh insan pers, termasuk pewarta foto, memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyampaikan informasi kepada publik melalui karya jurnalistik.

Menurutnya, proses jurnalistik mencakup kegiatan mencari informasi, melakukan verifikasi, meminta klarifikasi, hingga menyampaikan fakta kepada masyarakat secara berimbang.

“Kemerdekaan pers adalah salah satu pilar demokrasi. Tanpa wartawan yang dapat bekerja secara bebas, aman, dan independen, hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat akan terancam,” katanya.

Aksi Simbolik Tolak Pembungkaman Pers

Selain menyampaikan orasi, peserta aksi juga menggelar teatrikal sebagai simbol penolakan terhadap segala bentuk pembungkaman terhadap kebebasan pers.

Mereka menutup mulut menggunakan lakban sebagai bentuk protes atas ancaman terhadap ruang kebebasan berekspresi. Massa juga berjalan mundur sebagai simbol kemunduran demokrasi apabila ruang kebebasan pers terus menyempit.

Monumen Pers Nasional dipilih sebagai lokasi aksi karena dinilai memiliki nilai historis dalam perjalanan pers Indonesia.

Dalam orasinya, peserta juga mengingat kembali perjuangan tokoh-tokoh pers nasional seperti R.M. Tirto Adhi Soerjo, pelopor pers nasional sekaligus pendiri Medan Prijaji, serta S.K. Trimurti, wartawan perempuan asal Boyolali yang aktif memperjuangkan kemerdekaan melalui karya jurnalistiknya.

Aksi damai tersebut diikuti oleh PWI Surakarta, AJI Solo, PFI Solo, serta sejumlah lembaga pers mahasiswa, di antaranya LPM Pabelan, LPM Apresiasi, LPM Kentingan, LPM Justissica, dan LPM Islamika Media Group.

Melalui aksi tersebut, insan pers Soloraya menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, sekaligus menyerukan pentingnya menjaga kemerdekaan pers demi terpenuhinya hak masyarakat memperoleh informasi yang benar, akurat, dan berimbang. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *