Boccia Indonesia Juara Dunia, Jadi Modal Menuju Asian Para Games 2026

0
260827_Gischa Zayana

Atlet Indonesia Gischa Zayana (kanan) saat tampil dalam nomor individual BC2 putri kejuaraan World Boccia Championship 2026 di Seoul, Korea Selatan, 29 Agustus - 4 September 2026. Gischa yang tampil di nomor individu dan tim, berhasil meraih satu medali emas di nomor tim BC1/BC2. NPC INDONESIA

SOLO, JATENGNOW.COM – Tim boccia Indonesia mengukir sejarah dengan menjadi juara dunia setelah meraih tiga medali emas dan satu perak pada World Boccia Championship 2026 di Seoul, Korea Selatan.

Kejuaraan yang berlangsung pada 24 Agustus hingga 4 September 2026 tersebut menjadi catatan bersejarah bagi Indonesia. Sebab, untuk pertama kalinya Indonesia memenuhi syarat sebagai peserta World Boccia Championship.

Dalam ajang empat tahunan tersebut, Indonesia berhasil mengungguli sejumlah negara kuat. Thailand berada di posisi berikutnya dengan koleksi dua medali emas dan dua perak, sedangkan Hong Kong meraih satu emas, dua perak, dan dua perunggu.

Tiga medali emas Indonesia masing-masing dipersembahkan Handayani dari kelas BC1 putri, Muhammad Afrizal Syafa dari kelas BC1 putra, serta nomor mixed team BC1/BC2 melalui Afrizal Syafa, Felix Ardi Yudha, dan Gischa Zayana.

Sementara satu medali perak diraih Felix Ardi Yudha dari kelas BC2 putra.

Pelatih Boccia Indonesia, Islahuzzaman Nur Yadin, mengapresiasi penampilan para atlet yang dinilai mampu tampil percaya diri dan menjaga konsistensi sepanjang kompetisi.

Menurut Islah, sejumlah raihan medali tersebut sebelumnya memang telah menjadi target tim pelatih setelah para atlet menunjukkan performa positif pada kompetisi level dunia sebelumnya di Kazakhstan dan Portugal.

“Raihan medali di setiap kelas sebenarnya sudah kita prediksi, termasuk juga dengan lawan-lawannya. Kita bisa pegang di kelas BC1 putra dan putri, serta BC2 putra di kategori tim. Ini hasil yang sesuai prediksi,” kata Islah, Minggu (6/9/2026).

Poin Besar untuk Paralimpiade Los Angeles 2028

Kesuksesan di Seoul tidak hanya memberikan gelar juara dunia bagi Indonesia. Raihan tersebut juga memiliki arti penting dalam perburuan poin menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Islah menjelaskan, World Boccia Championship memiliki bobot poin yang sangat besar dan setara dengan ajang Paralimpiade.

“Poin yang kita raih dari kejuaraan ini sangat besar, setara dengan Paralimpiade. Poin ini menjadi penting untuk mengamankan posisi kita di Paralimpiade Los Angeles 2028,” tuturnya.

Salah satu perhatian utama tim pelatih berada di kelas BC1 putri. Handayani menjadi andalan Indonesia setelah sebelumnya belum berhasil lolos ke Paralimpiade Paris 2024.

Tim pelatih kemudian berupaya mengejar poin melalui sejumlah ajang World Cup. Hasilnya, Handayani mampu konsisten meraih podium hingga akhirnya merebut medali emas di Seoul.

“Kita cukup fokus di BC1 putri karena kemarin belum lolos ke Paralimpiade Paris 2024. Saat itu Handayani belum dapat ranking. Tahun ini kita kejar dari ajang world cup, berhasil podium terus dan akhirnya kemarin bisa mempertahankan prestasinya. Kita sudah memprediksi dia akan ketemu Jepang di final,” ungkap Islah.

Langsung Fokus Asian Para Games 2026

Usai membawa pulang prestasi dari Seoul, tim boccia Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat.

Tim pelatih langsung mengalihkan perhatian menuju Asian Para Games 2026 yang akan berlangsung di Nagoya, Jepang, pada 18-24 Oktober 2026.

Sejumlah negara seperti Thailand, Hong Kong, dan tuan rumah Jepang diprediksi menjadi pesaing kuat bagi Indonesia.

“Kita optimis lima atlet yang berangkat ke Asian Para Games Nagoya sudah siap untuk bertarung. Waktu satu bulan ini akan kita maksimalkan untuk berlatih lagi,” ujar Islah.

Handayani mengaku bersyukur bisa meraih medali emas dalam penampilan perdananya di World Boccia Championship. Menurutnya, persaingan di Seoul jauh lebih ketat karena jumlah peserta lebih banyak dibandingkan ajang World Cup.

“Biasanya cuma ada dua grup dan sekarang menjadi empat grup. Ini luar biasa banget karena lawannya jadi lebih banyak,” kata Handayani.

Ia menyebut sejumlah atlet dari Argentina, Brasil, Jepang, dan Singapura menjadi lawan yang memberikan tantangan berat selama kompetisi.

“Kemarin yang bagus itu ada dari Argentina, Brasil, Jepang dan Singapura. Atlet dari empat negara itu yang membuat persaingan menjadi lebih ketat. Alhamdulillah saya bisa melewatinya,” lanjutnya.

Handayani pun langsung memasang target tinggi untuk Asian Para Games 2026. Ia mengaku masih akan melakukan evaluasi, khususnya pada bola pertama dan bola jauh.

“Kalau evaluasi dari saya harus matengin lagi bola pertama sama bola jauh. Targetnya, Bismillah bisa podium tertinggi, minimal sampai final,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Felix Ardi Yudha yang menilai pengalaman tampil di World Boccia Championship memberikan pengalaman berharga. Apalagi, kompetisi tersebut memiliki atmosfer dan tingkat persaingan yang sangat tinggi.

“Vibes-nya sangat luar biasa dan begitu kompetitif karena ajang ini setara Paralimpiade. Saya pribadi berusaha tampil semaksimal mungkin. Terkait hasil, medali perak di individu dan emas di team sudah Alhamdulillah,” ucap Felix Ardi.

Felix kini juga fokus memperbaiki sejumlah aspek permainan sebelum tampil di Nagoya. Evaluasi yang dilakukan mencakup aspek mental hingga pengambilan keputusan saat pertandingan.

“Kalau saya pribadi evaluasinya lebih ke mentalitas, dan juga cara berpikir yang dituntut untuk lebih cepat dalam mengambil keputusan yang bijak dan eksekusinya lebih matang lagi,” jelasnya.

Dengan modal tiga medali emas dan satu perak dari World Boccia Championship 2026, tim boccia Indonesia kini bersiap membawa momentum tersebut ke Asian Para Games 2026. Prestasi di Seoul diharapkan menjadi pijakan penting dalam perjalanan Indonesia menuju target yang lebih besar di panggung olahraga para dunia. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *