Respati Ardi Cetuskan Istilah Santri Next Level di Ponpes Budi Utomo Solo, Siapkan Generasi Hadapi Bonus Demografi

0
image

Respati Ardi Cetuskan Istilah Santri Next Level di Ponpes Budi Utomo Solo, Siapkan Generasi Hadapi Bonus Demografi (JatengNOW/Dok)

SOLO, JATENGNOW.COM – Wali Kota Solo Respati Ardi mencetuskan istilah “Santri Next Level” untuk menggambarkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan, kemandirian, dan daya saing menghadapi tantangan masa depan.

Gagasan tersebut disampaikan Respati saat menghadiri acara Sarasehan Santri Sareng Mas Wali di Pondok Pesantren Budi Utomo, Surakarta, Minggu (25/10/2026) malam. Istilah itu juga dikaitkan dengan optimisme menyambut bonus demografi Indonesia pada 2045.

Respati mengaku terkesan dengan karakter dan kerukunan para santri yang ditemuinya secara langsung di lingkungan pondok pesantren tersebut.

“Tadi saya menanyai langsung dengan para santri di Pondok Pesantren Budi Utomo. Luar biasa sekali kerukunan dan karakter anak mudanya di sini. Saya percaya akan lahir tokoh-tokoh hebat dan pemimpin-pemimpin masa depan dari Pondok Pesantren Budi Utomo. Terima kasih,” ujar Respati.

Menurutnya, potensi santri perlu terus dikembangkan agar mereka mampu mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat. Kesiapan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga karakter dan kemampuan menerapkan keterampilan dalam kehidupan nyata.

Pimpinan Pondok Pesantren Budi Utomo Surakarta, KH M. Thoyibun, mengatakan pihaknya telah membekali santri dengan pendidikan agama sekaligus pengetahuan umum, keterampilan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.

Pembinaan tersebut diarahkan agar setiap santri memiliki tujuan yang jelas setelah menyelesaikan pendidikan. Menurut Thoyibun, santri juga mendapatkan pendampingan untuk mengenali bakat, kemampuan, serta cita-cita masing-masing.

“Kami tidak hanya mendidik soal ngaji, tetapi juga pengetahuan umum, bagaimana mendapat nilai terbaik, termasuk kontribusi terhadap masyarakat langsung. Kami biasakan dan latih kemandirian, kedisiplinan, ketertiban, peduli lingkungan, serta prestasi di luar akademik,” jelasnya.

Pihak pondok, lanjut Thoyibun, juga melakukan tes psikologi untuk membantu mengenali bakat dan kemampuan santri. Hasilnya menjadi salah satu dasar dalam memberikan bimbingan sesuai minat dan rencana masa depan mereka.

Santri yang ingin menjadi pengusaha, misalnya, diarahkan untuk mengembangkan kemampuan bisnis. Sementara mereka yang bercita-cita berkarier di bidang politik, militer, kepolisian, atau profesi lainnya mendapatkan arahan sesuai tujuan masing-masing.

Untuk mendukung proses tersebut, pondok pesantren turut menghadirkan praktisi dari berbagai bidang, termasuk ekonomi, bisnis, dan desain busana. Santri juga memperoleh pengalaman kewirausahaan melalui koperasi dan pembuatan makanan atau kue yang dijual di kantin pondok.

“Kami mengundang pakarnya. Mau yang ingin menjadi perancang mode, kami undangkan orang yang ahli. Kalau ingin ahli bisnis, kami undangkan orang yang ahli bisnis,” katanya.

Thoyibun berharap para santri dapat meraih keberhasilan di dunia dan akhirat sekaligus memiliki akhlak mulia. Bagi santri tingkat SMA, keberhasilan itu antara lain diwujudkan melalui kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau memiliki bekal keterampilan untuk bekerja dan berwirausaha.

Ketua LDII Kota Solo, Muhammad Zain, menyambut positif istilah Santri Next Level yang disampaikan Respati. Menurutnya, gagasan tersebut menjadi dorongan agar santri mempunyai daya saing, terutama dalam menghadapi bonus demografi.

Zain menilai penguatan karakter dan akhlak harus berjalan beriringan dengan pembekalan keterampilan hidup atau life skill. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu mandiri dan memberikan kontribusi nyata setelah menyelesaikan pendidikan.

Di Pondok Pesantren Budi Utomo, pendekatan pembelajaran dilakukan dengan memperbanyak praktik dibandingkan teori. Zain menyebut komposisi pembelajaran yang diterapkan sekitar 40 persen teori dan 60 persen praktik.

“Kalau kita hanya memperbanyak teori tetapi tidak praktik, anak-anak tidak segera memahami konteksnya. Namun, kalau diberikan teori sekitar 40 persen dan praktik 60 persen, nantinya anak-anak mempunyai solusi ketika menghadapi masalah di lapangan,” ungkap Zain.

Praktik tersebut diterapkan dalam berbagai kegiatan, termasuk fotografi dan videografi. Setelah memperoleh materi dasar, santri langsung berlatih melakukan peliputan dan mengelola konten pondok pesantren.

Mereka juga berkesempatan mendapatkan pengalaman ketika diminta membantu meliput kegiatan masyarakat, seperti acara pernikahan. Pengalaman itu diharapkan membangun keterampilan sekaligus kepercayaan diri santri dalam menghadapi kebutuhan di dunia kerja.

Zain menambahkan, keterlibatan santri dalam kegiatan pondok juga mencakup dokumentasi, pengelolaan tata suara, hingga kepanitiaan acara. Dengan demikian, santri dapat belajar melalui tanggung jawab yang dijalankan secara langsung.

Zain menyebut Respati sempat menyinggung rencana pembicaraan lebih lanjut mengenai pengembangan program Santri Next Level. Namun, bentuk dan rincian program tersebut masih perlu dibahas bersama.

Ia berharap pemerintah kota dapat mendukung pengembangan potensi santri melalui program yang sesuai dengan kebutuhan mereka, terutama dalam penguatan karakter, keterampilan, dan kemandirian.

Gagasan Santri Next Level pun diharapkan tidak berhenti sebagai istilah, tetapi dapat menjadi dorongan untuk memperluas kesempatan belajar dan praktik bagi para santri.

Dengan pembekalan ilmu agama, pengetahuan umum, serta keterampilan yang relevan, santri diharapkan mampu menjadi bagian dari generasi muda yang siap menghadapi bonus demografi 2045 dan berkontribusi bagi masyarakat. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *