Dari UKM Kampus ke Panggung PROJEK-D, Jalan Panjang Mess In Balance Menembus Skena Musik Solo

0
image

Dari UKM Kampus ke Panggung PROJEK-D, Jalan Panjang Mess In Balance Menembus Skena Musik Solo (JatengNOW/Dok. MIB)

SOLO, JATENGNOW.COM – Jauh sebelum namanya masuk dalam daftar penampil PROJEK-D VOL.5, Mess In Balance hanyalah sekelompok mahasiswa yang kerap bermain musik bersama di lingkungan kampus.

Tidak ada panggung besar. Tidak ada fasilitas produksi mewah. Bahkan untuk merekam karya sendiri, mereka harus menabung dan membeli soundcard secara mandiri.

Perjalanan itu kemudian membawa band asal Solo tersebut menjadi pemenang program Cekson dan mendapatkan kesempatan tampil di PROJEK-D VOL.5 yang akan digelar di De Tjolomadoe, Karanganyar, 5 September 2026.

Bagi Mess In Balance, kesempatan tersebut bukan sekadar jadwal manggung. Panggung PROJEK-D menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan mereka sebagai band emerging.

“Excited terus karena ini salah satu wishlist kami juga untuk tampil di Projek-D. Suatu kebanggaan juga karena kita lolos sebagai pemenang submission,” kata vokalis Mess In Balance, Hasan Vanzin, saat ditemui di Cafe SL13 Solo, Rabu (26/8/2026) malam.

SM Manager Mess In Balance, Dwi Julian, bahkan menempatkan PROJEK-D sebagai salah satu festival penting di Kota Solo.

“Kalau dibilang urutan kayaknya mungkin nomor satu, karena ini juga festival top of mind di Solo. Jadi aku merasa ini kesempatan besar buat teman-teman Mess In Balance main di sana,” ujarnya.

Kesempatan itu datang setelah Mess In Balance memenangkan program Cekson, salah satu program PROJEK-D yang memberikan ruang bagi musisi baru untuk tampil dalam rangkaian festival.

Berawal dari UKM Seni UMS

Mess In Balance terbentuk dari pertemuan sejumlah mahasiswa di salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) seni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Hasan menuturkan, saat itu mereka belum memiliki nama band. Mereka hanya berkumpul di lingkungan UKM dan memainkan musik bersama.

“Di situlah kita sering ben-benan. Dulu belum ada yang namanya band Mess In Balance. Kita tanpa nama, tapi masih ben-benan mencoba untuk keluar, mengisi acara kampus,” tutur Hasan.

Seiring waktu, mereka merasa aktivitas bermusik tersebut perlu dikembangkan lebih jauh. Mereka kemudian membentuk band bernama Mess In Balance.

Pada 2024, mereka memutuskan keluar dari lingkungan UKM dan mencoba membangun jalur sendiri.

Keputusan itu diambil karena mereka ingin memperluas pengalaman, relasi, sekaligus mencari ruang pertunjukan di luar lingkungan kampus.

“Daripada kita nanti di UKM terus, terus mainnya juga cuma di kampus-kampus, kita mencoba eksplor keluar, cari referensi atau relasi,” katanya.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Untuk menghasilkan karya, para personel bahkan harus menabung demi membeli soundcard agar dapat melakukan proses rekaman secara mandiri.

Dari proses itu, lahirlah lagu pertama mereka berjudul “Bring It Back” pada awal 2024.

Setelahnya, Mess In Balance merilis dua maxi single dan kemudian sebuah album. Kini mereka masih berada dalam proses meracik materi musik baru.

“Jungkir balik kita nabung buat beli soundcard buat record sendiri. Akhirnya lahirlah satu lagu dari kami yang pertama, yaitu ‘Bring It Back’,” ujar Hasan.

Dari Panggung hingga Kehilangan Motor

SM Manager Mess In Balance, Dwi Julian (Kiri), drummer Mess In Balance, Ilhan Arkan (tengah) dan Vokalis Mess In Balance, Hasan Vanzin (kanan) (JatengNOW/Dok. Kevin Rama)

Perjalanan mencari panggung juga menghadirkan cerita tersendiri bagi Mess In Balance.

Salah satunya terjadi ketika mereka tampil dalam sebuah acara di Salatiga. Usai manggung dan hendak pulang, motor milik gitaris mereka, Dito, ternyata sudah tidak berada di tempat.

“Panggung, kehilangan motor,” ujar Dwi sambil tertawa mengenang pengalaman tersebut.

Bagi sebuah band yang masih berkembang, berbagai pengalaman itu menjadi bagian dari proses membangun diri sekaligus mengenali karakter musik mereka.

Dwi mengatakan Mess In Balance sejak awal memiliki karakter pertunjukan yang cukup agresif. Penonton tidak hanya duduk menyaksikan, tetapi ikut terlibat dalam suasana pertunjukan.

“Setiap kita manggung sudah pasti chaos dan penonton-penontonnya bukan yang bisa duduk diam dan nonton kita. Jadi benar-benar ada moshpit, ada crowd surfing,” katanya.

Karakter tersebut juga membuat Mess In Balance mulai menentukan pasar dan ruang pertunjukan yang sesuai dengan musik mereka.

Solo dan Gelombang Band Emerging

Perjalanan Mess In Balance berlangsung ketika skena musik Solo dinilai semakin memberikan ruang bagi band-band baru.

Dwi menyebut Solo kini memiliki banyak kolektif dan acara yang menawarkan pengalaman berbeda kepada musisi maupun penonton.

“Untuk kita band emerging, kita masih masuk band yang memang masih bertumbuh. Sangat amat menyenangkan kita tinggal di Solo karena Solo sekarang ombaknya lagi besar-besarnya untuk band-band emerging seperti kita,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan kolektif dan berbagai acara musik membuat band baru memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan penonton dan membangun karakter.

“Banyak kolektif atau banyak acara yang memang punya kreativitas berbeda yang memberikan experience berbeda. Tidak cuma manggung, kita mainkan lagu, kita juga erat dengan penonton,” lanjutnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting bagi keberadaan program seperti Cekson.

Melalui program tersebut, band yang masih berada dalam tahap berkembang mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung festival yang lebih besar.

Bagi Mess In Balance, kesempatan tersebut sekaligus menjadi pintu untuk memperkenalkan musik mereka kepada audiens yang lebih luas.

Lima Tahun PROJEK-D, Empat Panggung

Unit rock independen Mess In Balance (JatengNOW/Dok. IG @rockmessinbalance)

Kisah Mess In Balance bertemu dengan perjalanan PROJEK-D yang memasuki tahun kelima penyelenggaraan.

PROJEK-D VOL.5 akan digelar di De Tjolomadoe, Karanganyar, pada 5 September 2026 dengan konsep baru berupa festival satu hari dan empat panggung.

Selain panggung Maduswara dan Wirama, tahun ini hadir panggung Sriwedari serta Guyonlaah yang berkolaborasi dengan Stand Up Indo Solo.

Format tersebut memperluas ruang yang tersedia, tidak hanya untuk musisi, tetapi juga komunitas, pelaku industri kreatif, UMKM hingga komika.

Program pengembangan ekosistem juga menjadi bagian dari perjalanan PROJEK-D. Salah satunya Kelas Musik yang telah berjalan sejak 2023 dan kemudian dikembangkan melalui Kelas Musik x Dengar Kota.

Rangkaian program tersebut menyambangi sejumlah kota dengan membawa pembahasan mengenai berbagai persoalan dan perkembangan ekosistem musik.

Di tengah perubahan format tersebut, PROJEK-D tetap mempertahankan ruang bagi musisi baru melalui Cekson.

Mess In Balance menjadi salah satu hasil dari program tersebut.

Membawa Rock Solo ke Jakarta

Bagi Mess In Balance, PROJEK-D bukan titik akhir.

Setelah tampil di festival tersebut, mereka justru menyiapkan langkah berikutnya dengan rencana melakukan tur ke Jakarta.

Dwi mengatakan rencana tersebut diproyeksikan berlangsung mulai September hingga pertengahan Oktober 2026. Jadwal dan lokasi pertunjukan masih dalam tahap penyusunan.

“Kita akan coba menginvasi Jakarta dengan tur. Tepatnya mulai dari September sampai nanti Oktober pertengahan. Kita bawa rock dari Solo ini ke kancah Jakarta, buat orang-orang Jakarta biar tahu kalau kita ada,” katanya.

Rencana itu menunjukkan bagaimana sebuah band yang bermula dari ruang UKM kampus mulai berusaha membawa musiknya keluar dari kota asal.

Bagi mereka, panggung bukan sekadar tempat memainkan lagu. Panggung menjadi ruang untuk membangun pengalaman, memperkenalkan karya, sekaligus membuka jalan menuju kesempatan berikutnya.

Hasan sendiri memaknai tema #sehidupseparty yang diusung PROJEK-D sebagai ajakan untuk menikmati hidup.

“Namanya sehidupseparty itu kan kita hidup satu kali, jadi harus menjalani hidup dengan sesenang mungkin,” katanya.

Ilhan menambahkan semangat tersebut selaras dengan energi rock and roll yang mereka bawa.

“Kalau di rock n’ roll itu long live rock n’ roll,” ujar drummer Mess In Balance tersebut.

Kini, Mess In Balance tinggal menunggu waktunya naik panggung. Setelah perjalanan dari UKM kampus, rekaman dengan peralatan sendiri, berbagai panggung hingga pengalaman kehilangan motor saat manggung, mereka mendapatkan kesempatan untuk tampil di salah satu festival besar di Solo.

Dan setelah lampu panggung PROJEK-D padam, mereka sudah menyiapkan tujuan berikutnya: membawa suara rock dari Solo menuju Jakarta. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *