September 24, 2026

Dugaan Keracunan MBG di Batang Bertambah, 276 Orang Terdampak

0
GridArt_20260924_125844851

BATANG,JATENGNOW.COM – Jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, bertambah menjadi 276 orang.

Data terbaru tersebut disampaikan Wakil Bupati Batang Suyono, Rabu (23/9/2026). Pemerintah Kabupaten Batang masih melakukan pendataan dan pemantauan terhadap warga yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Suyono mengatakan, jumlah tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan yang terus dilakukan di lapangan.

“Perkembangan tetap kita tunggu. Yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir,” kata Suyono.

SPPG Kecamatan Bawang diketahui melayani sekitar 2.700 penerima manfaat. Namun, angka tersebut merupakan total penerima manfaat, bukan jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan.

Layanan SPPG tersebut mencakup sedikitnya 11 satuan pendidikan dan lembaga pendidikan di Kecamatan Bawang. Di antaranya TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.

Pemerintah masih melakukan verifikasi terhadap sebaran korban. Sebagian warga yang mengalami keluhan merupakan anak penerima manfaat MBG. Selain itu, terdapat pula orang tua yang ikut mengonsumsi makanan setelah porsi MBG dibawa pulang oleh anak mereka.

“Orang tua memakan dari sisa anak,” ujar Suyono.

Sejumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan telah mendapatkan penanganan medis. Berdasarkan data terbaru, sekitar 19 orang menjalani perawatan di RSUD Kalisari Batang.

Keluhan yang dialami korban di antaranya mual dan pusing. Pemerintah masih memantau perkembangan kondisi mereka sekaligus mengantisipasi apabila jumlah warga yang membutuhkan penanganan medis bertambah.

Suyono mengatakan, apabila fasilitas rumah sakit tidak mampu menampung seluruh pasien, pemerintah dapat mengarahkan pasien ke puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap.

“Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap,” katanya.

Meski jumlah warga yang mengalami keluhan terus bertambah, pemerintah belum menyimpulkan penyebabnya. Sampel makanan telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Sebelumnya, menu MBG yang dikonsumsi antara lain nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan dan anggur. Namun, pemerintah belum menyatakan salah satu menu tersebut sebagai penyebab gangguan kesehatan.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui sumber masalah sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Sebagai langkah sementara, distribusi MBG dari SPPG yang bersangkutan dihentikan. Penghentian dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi terhadap pengelolaan SPPG.

Suyono menegaskan, pemerintah akan meminta penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab atas operasional SPPG, termasuk memastikan penerapan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.

“Ini program negara yang harusnya bagus, tapi tidak dijaga dengan baik,” ujarnya.

Pemkab Batang juga belum menetapkan kejadian tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Menurut Suyono, penetapan KLB membutuhkan pembahasan dan mekanisme tersendiri.

Untuk saat ini, pemerintah masih memprioritaskan pendataan korban, penanganan warga yang mengalami keluhan kesehatan, serta pemeriksaan sampel makanan.

Pemerintah juga menegaskan bahwa angka 2.700 merupakan jumlah penerima manfaat SPPG, sedangkan 276 orang merupakan jumlah warga yang tercatat mengalami keluhan dalam pembaruan data.

Sampai hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh, pemerintah masih menggunakan istilah dugaan keracunan MBG dan belum menetapkan penyebab pasti kejadian tersebut. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *