Festival Empu Wesi Aji Jepara 2026 Digelar, Jejak Tradisi Pusaka Pesisiran Kembali Dihidupkan
Festival Empu Wesi Aji Jepara 2026 Digelar, Jejak Tradisi Pusaka Pesisiran Kembali Dihidupkan (JatengNOW/Dok)
JEPARA, JATENGNOW.COM – Pecinta budaya dan benda pusaka di Kabupaten Jepara kembali mendapat ruang untuk mengenal lebih dekat sejarah serta tradisi perkerisan. Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara menggelar Panemwaja Exhibition, Festival Empu Wesi Aji Jepara 2026 di Museum R.A. Kartini Jepara, Jumat-Sabtu (21-22/8/2026).
Festival tersebut menjadi ajang memperkenalkan seni tempa pusaka sekaligus menggali kembali jejak sejarah perkerisan di Kota Ukir.
Rangkaian kegiatan dibuka pada Jumat (21/8/2026) dengan pertunjukan sendratari dari SMK Negeri 1 Pakis Aji. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan pengurus Senapati Nusantara Jepara dan peresmian pameran tosan aji.
Pengukuhan pengurus dilakukan langsung oleh Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Perkerisan Nasional Senapati Nusantara, Nurjianto.
Pengunjung juga dapat mengikuti tur pameran serta menyaksikan secara langsung proses pembuatan pusaka melalui atraksi live tempa pusaka oleh Empu Panemwaja.
Tak hanya melihat koleksi pusaka, pengunjung juga mendapat kesempatan mengikuti workshop atau sarasehan budaya bertema “Melihat Kembali Pusaka Gaya Pesisiran” bersama narasumber dari Senapati Nusantara.
Rangkaian Festival Empu Wesi Aji Jepara berlanjut pada Sabtu (22/8/2026). Salah satu agenda utamanya yakni prosesi jamasan dan boyong pusaka dari Astana Sultan Hadlirin Mantingan menuju Pendopo Kabupaten Jepara.
Pada sore hingga malam hari, masyarakat kembali dapat menyaksikan proses live tempa pusaka. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penerimaan Kirab Pusaka Grebeg Mulud Njeporonan dan Pagelaran Grebeg Mulud di kawasan Jalan Kartini.
Festival yang berlangsung selama dua hari tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai sejarah dan tradisi pembuatan pusaka.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat identitas Jepara sebagai daerah yang memiliki kekayaan seni tempa besi dan tradisi pusaka pesisiran.
Ketua Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Jepara, KRA Bambang Setiawan Adiningrat, mengatakan Jepara memiliki jejak sejarah perkerisan yang cukup panjang.
Berdasarkan penelusuran di sejumlah desa, pada era 1900-an terdapat dua empu yang aktif di Desa Tegalsambi, yakni Empu Supo dan Empu Suro.
“Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sisa penempaan besi atau intel di sekitar area pemakaman mereka. Catatan kolonial Belanda tahun 1910 juga mengonfirmasi adanya aktivitas empu di Jepara pada masa tersebut,” ujar Bambang.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Ali Hidayat, menyambut positif meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap seni kriya logam, khususnya pembuatan benda pusaka.
Menurutnya, tradisi tersebut masih memiliki jejak di sejumlah wilayah Jepara. Selain di Tegalsambi, terdapat empu lain seperti Mbah Royom di Desa Kancilan serta pengrajin di Desa Wedelan.
Ali menekankan pentingnya kesinambungan regenerasi agar tradisi pembuatan pusaka tidak hilang ditelan zaman.
“Upaya pelestarian ini jangan sampai kepaten obor (terputus di tengah jalan). Kita berharap makin banyak generasi muda yang mengikuti jejak para empu Jepara,” tutur Ali.
Festival Empu Wesi Aji Jepara 2026 pun menjadi salah satu upaya mempertemukan pelaku tradisi, komunitas budaya, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ruang. Harapannya, pengetahuan tentang pusaka dan seni tempa Jepara tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (jn02)
