Jean-Paul van Gastel Akui Sedih Peter de Roo Mundur, Tapi Fokus Hadapi Derby Mataram

0
IMG-20251107-WA0057

Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul van Gastel (JatengNOW/Benediktus Candra)

SOLO, JATENGNOW.COM – Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul van Gastel, mengaku turut merasakan kesedihan atas keputusan mundurnya pelatih Persis Solo, Peter de Roo, jelang laga panas Derby Mataram di Stadion Manahan Solo, Sabtu (8/11/2025). Meski demikian, Van Gastel menegaskan fokus timnya tidak akan terganggu menjelang laga penuh gengsi tersebut.

Dalam sesi konferensi pers pra-pertandingan, Van Gastel mengatakan bahwa dirinya sempat menjalin hubungan baik dengan Peter de Roo. Keduanya sama-sama berasal dari Belanda dan pernah bertemu dalam kesempatan santai di luar lapangan.

“Apabila kita mempunyai kolega, dua orang berasal dari negara yang sama di kota yang berdekatan, sudah sewajarnya kita bertemu dan bercengkrama. Saya pernah mengundang Peter ke rumah, kami makan malam dan berbicara tentang sepak bola serta karier kami. Sangat sedih ketika kolega Anda harus dirumahkan,” ujar Van Gastel.

Meski turut prihatin atas nasib rekannya, Van Gastel menegaskan bahwa ia memahami dinamika pekerjaan di dunia sepak bola profesional.

“Ini soal pekerjaan. Karena pekerjaan ini berat, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Dan terkadang ketika kita mendapatkan pekerjaan, di situ juga ada risiko untuk dirumahkan,” tambahnya.

Berbicara soal persiapan menghadapi Persis Solo, Van Gastel menyebut PSIM selalu mempersiapkan diri dengan pendekatan yang sama seperti laga-laga sebelumnya. Ia menilai Derby Mataram tetap menjadi laga penting, tetapi tidak boleh membuat pemain kehilangan fokus utama.

“Kami selalu mempersiapkan pertandingan dengan cara yang sama. Tidak ada yang berbeda untuk laga ini,” jelasnya.

Terkait strategi, Van Gastel menyoroti pentingnya kekompakan lini pertahanan PSIM dalam menghadapi serangan pemain Persis yang dinilainya memiliki keunggulan fisik.

“Sebagai pemain bertahan, tentu sulit menghadapi striker yang tinggi, kuat, dan cepat. Tapi itu bukan soal individu, itu soal bagaimana tim bekerja sama dan saling membantu untuk bertahan,” ungkapnya.

Ia juga menilai periode pramusim memiliki peran penting bagi pelatih untuk menilai karakter dan kualitas pemain, meskipun hasil di masa pramusim tidak selalu menjadi ukuran performa di kompetisi sebenarnya.

“Pramusim penting bagi pelatih untuk mengenal dan memberi kesempatan kepada pemain menunjukkan kualitasnya. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana hasil dan performa saat liga berjalan,” tutupnya.

Derby Mataram antara Persis Solo dan PSIM Jogja akan menjadi pertemuan pertama kedua tim sejak musim 2021/2022. Laga ini diprediksi berlangsung sengit, mengingat rivalitas panjang dan atmosfer panas yang selalu menyelimuti duel dua klub bertetangga ini. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *