Wagub Jateng Dorong Budaya Donor Darah, Targetkan Jateng Jadi Destinasi Wisata Kesehatan
Wagub Jateng Dorong Budaya Donor Darah, Targetkan Jateng Jadi Destinasi Wisata Kesehatan (JatengNOW/Dok)
SEMARANG, JATENGNOW.COM – Budaya donor darah dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat ekosistem kesehatan di Jawa Tengah. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong budaya tersebut terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menjadikan Jawa Tengah sebagai destinasi wisata kesehatan (medical tourism).
Hal itu disampaikan Taj Yasin saat menghadiri Penyerahan Penghargaan dan Temu Donor Darah Sukarela ke-50 dan ke-75 kali PMI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah di Balairung Astina Ballroom UTC Convention Hotel Semarang, Selasa (29/9/2026).
Menurut Taj Yasin, donor darah tidak sebatas memenuhi kebutuhan transfusi bagi pasien. Lebih dari itu, aktivitas tersebut menjadi bentuk pelayanan kesehatan sekaligus kepedulian kemanusiaan.
“Melalui donor darah, kita bisa mewujudkan kesehatan dan menyelamatkan nyawa. Kita ingin Jawa Tengah menjadi destinasi wisata kesehatan, Nah, ini yang kita dorong,” kata Taj Yasin yang juga menjabat Ketua Dewan Kehormatan PMI Jawa Tengah.
Ia menyebut konsistensi masyarakat dalam mendonorkan darah menjadi modal sosial untuk mendukung layanan kesehatan di Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 2.348 pendonor menerima penghargaan, terdiri dari 1.743 pendonor yang telah mencapai 50 kali donor dan 605 pendonor yang telah mencapai 75 kali donor.
Taj Yasin berharap para pendonor yang telah konsisten tersebut dapat menginspirasi masyarakat lain untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah.
Selain memastikan ketersediaan darah, Taj Yasin menilai peningkatan kualitas pelayanan juga diperlukan. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital dalam layanan donor darah.
Ia meminta PMI baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mengoptimalkan sistem digital agar masyarakat lebih mudah mengetahui informasi layanan donor dan dapat mengatur kedatangan tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk mengantre.
“Dengan sistem digital, masyarakat yang ingin donor bisa mengetahui layanan donor darah dan datang tanpa harus menghabiskan waktu untuk mengantre,” ujarnya.
Ketua PMI Jawa Tengah Haryanto mengatakan, sekitar 97 persen kebutuhan darah rumah sakit di Jawa Tengah dapat dipenuhi PMI. Kondisi tersebut turut mendukung ketersediaan stok darah di wilayah tersebut.
Menurut Haryanto, mencapai 50 kali donor membutuhkan konsistensi selama sekitar 13-14 tahun. Sementara untuk mencapai 75 kali donor, seorang pendonor rata-rata membutuhkan waktu sekitar 18 tahun.
Khusus pendonor yang telah mencapai 75 kali, total darah yang disumbangkan dapat mencapai sekitar 37,5 liter.
“Ini luar biasa. Tanda jasa yang kami berikan tidak seberapa, dibandingkan dengan pengorbanan yang tulus dari Bapak/Ibu sekalian,” ujarnya.
Salah satu penerima penghargaan donor ke-75, Agustian dari Kabupaten Magelang, mengaku telah mengenal donor darah sejak usia sekitar 16-17 tahun.
Keinginannya sederhana, yakni membantu orang lain melalui hal yang mampu dilakukannya.
“Kalau mau membantu orang lain dengan uang atau materi, mungkin belum bisa. Tetapi kalau darah, insyaallah bisa,” ujarnya.
Sementara itu, Saparwanti (67), warga Bulukerto, Wonogiri, telah mendonorkan darah sebanyak 52 kali. Mantan guru SD tersebut menganggap donor darah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.
“Saya merasa senang juga karena kegiatan sosial kita dihargai,” katanya.
Melalui konsistensi para pendonor tersebut, budaya donor darah diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat. Pemprov Jawa Tengah juga mendorong penguatan layanan kesehatan agar ketersediaan darah berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan. (jn02)
