Warga Serbu Gerakan Pangan Murah di Kabupaten Semarang, Harga Bahan Pokok Lebih Hemat Rp4.000
Warga Serbu Gerakan Pangan Murah di Kabupaten Semarang, Harga Bahan Pokok Lebih Hemat Rp4.000 (JatengNOW/Dok)
KABUPATEN SEMARANG, JATENGNOW.COM – Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Lapangan Tlogo Resort, Kabupaten Semarang, Rabu (21/10/2026), disambut antusias warga. Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-46 itu menjadi kesempatan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Sejumlah komoditas yang dijual meliputi cabai, daging ayam, telur, beras, gula, dan berbagai bahan pangan lainnya. Warga memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga karena harga yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan harga di pasaran.
Ngatemi, warga Desa Delik, mengaku terbantu dengan adanya GPM. Ia membeli sejumlah bahan pangan, mulai dari cabai hingga beras, untuk memenuhi kebutuhan dapur.
“Harganya jauh lebih murah dibandingkan di pasaran. Selisihnya sekitar Rp2.000 sampai Rp4.000. Gerakan pangan murah seperti ini sangat membantu masyarakat kecil untuk memenuhi kebutuhan pokok. Harapannya bisa dilaksanakan secara rutin,” ujarnya.
Antusiasme juga terlihat dari warga laki-laki yang datang untuk berbelanja. Riyono, salah satunya, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli beras, gula, dan sejumlah bahan pokok lainnya dalam jumlah banyak.
“Gerakan pangan murah menjadi momentum untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari, dengan harga yang lebih terjangkau. Senang, ini mau beli lagi yang mau dibutuhkan,” ungkapnya.
Riyono berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin, terutama di wilayah yang masyarakatnya membutuhkan akses terhadap bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.
“Harapannya bisa dilakukan secara rutin, masyarakat terbantu dengan kegiatan ini,” lanjutnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, GPM menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok. Menurutnya, ketersediaan bahan pangan perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk membelinya.
“Ketersediaan stok saja tidak cukup, tanpa adanya keterjangkauan dari masyarakat,” ujarnya saat membuka GPM serentak.
Luthfi menekankan, pelaksanaan GPM perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Pemerintah daerah diminta melakukan survei untuk mengetahui komoditas yang paling dibutuhkan masyarakat sekaligus menentukan lokasi kegiatan yang tepat.
Dengan pemetaan tersebut, intervensi harga diharapkan lebih tepat sasaran. Wilayah yang mengalami kekurangan pasokan komoditas tertentu dapat diprioritaskan agar kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Pelaksanaan GPM, lanjutnya, membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD hingga dinas terkait. Sinergi tersebut diperlukan untuk menjaga pasokan sekaligus memastikan harga pangan tetap terjangkau.
Luthfi menyebut, sepanjang 2026, Pemprov Jawa Tengah telah menggelar GPM di 1.724 titik. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi di wilayah Jawa Tengah.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap masyarakat lebih mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, stabilitas pasokan dan harga juga diharapkan dapat mendukung keberlangsungan usaha petani serta peternak.
“Ketersediaan bahan pokok penting bagi masyarakat, begitu juga dengan keterjangkauan harga. Sehingga Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang inflasinya bisa terkendali,” tandasnya. (jn02)
