BPBD Rembang Lakukan Pemantauan Intensif Usai Tanah Bergerak 62 Meter
BPBD Rembang Lakukan Pemantauan Intensif Usai Tanah Bergerak 62 Meter (JatengNOW/Dok)
REMBANG, JATENGNOW.COM — Pemerintah Kabupaten Rembang bergerak cepat menangani peristiwa tanah ambles yang terjadi di Dusun Gobok, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori. Insiden yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi itu menyebabkan empat rumah warga dan satu kandang ternak mengalami kerusakan.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menjelaskan curah hujan tinggi beberapa hari terakhir membuat struktur tanah menjadi gembur dan tidak stabil.
“Akibat hujan dengan intensitas tinggi, kontur tanah menjadi labil. Sekitar 62 meter tanah bergerak turun,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (25/2/2026).
Dari hasil asesmen sementara, total kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp192 juta. Rumah milik Darto dilaporkan mengalami ambles hingga kurang lebih dua meter dengan taksiran kerugian Rp90 juta.
Kerusakan juga menimpa kandang ternak milik Sukarji dengan estimasi Rp12 juta, serta rumah Lukman Arif yang mengalami retak pada pondasi dan dinding dengan kerugian sekitar Rp10 juta.
Sementara itu, rumah Umbarno dilaporkan rusak pada bagian kamar mandi dan kandang dengan estimasi Rp50 juta. Rumah Suwarni juga mengalami retak pada dinding lantai dua dengan taksiran kerugian sekitar Rp30 juta.
BPBD Rembang telah melakukan pendataan terhadap warga terdampak serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan organisasi perangkat daerah terkait untuk langkah penanganan lanjutan. Meski pergerakan tanah masih terjadi, sebagian warga memilih tetap bertahan karena kerusakan mayoritas berada di bagian belakang bangunan.
Sebagai bentuk dukungan selama masa tanggap darurat, lima keluarga terdampak telah menerima bantuan kebutuhan pokok dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang.
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan deras yang berpotensi memperparah pergerakan tanah.
Perwakilan keluarga terdampak, Chorik, mengungkapkan amblesan mulai terjadi sejak 18 Januari 2026 dan berlangsung bertahap, lalu semakin parah setelah hujan lebat pada 23 Februari 2026.
“Amblesnya hampir setiap hari. Rumah ayah saya bagian belakang sudah turun. Kamar mandi sekarang posisinya lebih rendah dari sebelumnya,” tuturnya.
Hingga kini, BPBD Kabupaten Rembang masih melakukan pemantauan berkala dan menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalkan risiko lanjutan bagi warga di sekitar lokasi. (jn02)
