Kisah Agus Mardiko, Perajin Miniatur Perahu Larungan Syawalan Jepara
Kisah Agus Mardiko, Perajin Miniatur Perahu Larungan Syawalan Jepara (JatengNOw/Dok)
JEPARA, JATENGNOW.COM – Tradisi Lomban Jepara saat Syawalan di Jepara menyimpan banyak cerita yang belum banyak diketahui masyarakat.
Salah satunya adalah peran penting miniatur perahu yang digunakan untuk melarung sesaji ke laut sebagai bagian dari ritual adat.
Sejarah mencatat, sejak era kepemimpinan H. Sidik sebagai petinggi Ujungbatu sekitar tahun 1920, tradisi Lomban mengalami penambahan ubo rampe berupa kepala kerbau. Sejak saat itu, diperlukan perahu kecil untuk membawa sekitar 25 jenis sesaji yang kemudian dilarung di sekitar Pulau Bokor, sebelah utara Pulau Panjang.
Perahu tersebut dibuat melalui proses khusus yang tidak hanya mengandalkan keterampilan, tetapi juga ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Kini, pembuatan perahu larungan tersebut dipercayakan kepada Agus Mardiko (53), warga Kelurahan Ujungbatu.
Sehari-hari bekerja sebagai sekuriti di Perumda Aneka Usaha Jepara, Agus menerima amanah tersebut dari almarhum Zaenal Arifin sejak tahun 2005.
Menurut Agus, pembuatan perahu larungan bukan sekadar membuat miniatur biasa, melainkan sarat dengan nilai spiritual.
Sebelum memulai proses pembuatan, ia harus menjalani ritual seperti berpuasa selama tiga hari untuk menyucikan niat.
Selain itu, bahan yang digunakan juga tidak sembarangan, yakni kain putih, bambu apus, dan batang pisang raja yang memiliki makna simbolis dalam tradisi tersebut.
“Tidak hanya membuat perahu, tapi juga ada doa dan laku yang harus dijalani,” ujar Agus.
Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara yang terus dijaga hingga kini, sebagai wujud syukur sekaligus harapan akan keselamatan dan keberkahan dari laut. (jn02)
