Puspo Wardoyo Luncurkan Inovasi Makanan Siap Saji untuk Haji, Tahan Hampir 2 Tahun Tanpa Pengawet

0
ChatGPT Image 18 Mei 2026, 13.59.41

Puspo Wardoyo Luncurkan Inovasi Makanan Siap Saji untuk Haji, Tahan Hampir 2 Tahun Tanpa Pengawet (JatengNOW/Dok)

SOLO, JATENGNOW.COM – Pengalaman panjang mengelola bisnis katering di Arab Saudi mendorong pengusaha asal Solo, Puspo Wardoyo, menghadirkan inovasi makanan Ready to Eat (RTE) atau siap saji untuk jemaah haji Indonesia.

Melalui perusahaan miliknya, PT Halalan Thayyiban (HATI), Puspo menciptakan solusi konsumsi bagi jutaan jemaah saat puncak ibadah haji di Arafah dan Mina yang selama ini kerap terkendala distribusi logistik makanan.

Saat ditemui di Hotel Capsule Kalipepe Land Boyolali, Jumat (15/5/2026), Puspo mengungkapkan kepadatan jutaan jemaah di area terbatas membuat jalur distribusi katering konvensional sering lumpuh akibat kemacetan parah.

“Puncak haji itu ada di Arafah dan Mina di mana dua juta orang berkumpul di tempat sempit sehingga transportasi macet total dan logistik susah masuk. Sebelum ada teknologi Ready to Eat ini, makanan jemaah sering terlambat bahkan basi karena tidak ada ruang untuk membangun dapur besar,” ujar Puspo Wardoyo.

Berangkat dari persoalan tersebut, PT HATI menggandeng pakar pangan lulusan UGM, Sugiri, untuk melakukan riset sejak 2019. Setelah penelitian lebih dari dua tahun, perusahaan berhasil mengembangkan teknologi sterilisasi makanan pertama di Indonesia menggunakan pemanasan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan tinggi.

Direktur Utama PT HATI, Sugiri menjelaskan teknologi pengemasan vakum tersebut mampu membunuh hampir seluruh mikroba patogen tanpa mengubah tekstur maupun cita rasa makanan asli.

“Bisa bertahan hampir dua tahun,” ungkap Sugiri.

Melalui teknologi ini, berbagai menu khas nusantara seperti rendang ayam, opor ayam, semur ayam hingga gulai kambing dapat bertahan hingga 18 bulan tanpa bahan pengawet kimia.

Selain memproduksi paket nasi siap santap, PT HATI juga mengirim sekitar 300 ton pasta bumbu dasar ke Arab Saudi tahun ini. Bumbu berbahan rempah petani lokal tersebut digunakan untuk menjaga cita rasa asli masakan Indonesia di tengah dominasi juru masak asing di dapur katering haji.

Inovasi tersebut juga dinilai mampu menekan risiko gangguan pencernaan hingga batuk pilek pada jemaah lansia akibat penggunaan bumbu cair dengan pengawet keras yang sebelumnya kerap digunakan.

Meski sempat mengalami kerugian hingga Rp100 miliar pada masa awal pengembangan akibat keraguan pasar, kini produk PT HATI yang dikerjakan sekitar 400 tenaga kerja lokal Sukoharjo telah mengantongi berbagai sertifikasi, mulai dari BPOM, halal BPJPH, ISO 22000 hingga izin Saudi Food and Drug Authority (SFDA). (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *