Ahmad Luthfi Dorong Borobudur Jadi Pusat Wisata Terintegrasi Lima Daerah
Ahmad Luthfi Dorong Borobudur Jadi Pusat Wisata Terintegrasi Lima Daerah (JatengNOW/Dok)
TEMANGGUNG, JATENGNOW.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan kawasan Candi Borobudur sebagai pusat pengembangan wisata berkelanjutan yang terintegrasi dengan sejumlah destinasi unggulan di wilayah Kedu dan sekitarnya.
Konsep tersebut menghubungkan kawasan wisata di Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Purworejo, Kebumen, hingga Temanggung atau yang dikenal dengan kawasan aglomerasi Keburejo-Gelangmanggung.
Gagasan penguatan konektivitas wisata itu dibahas dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah yang digelar di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu (3/6/2026).
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Borobudur tidak boleh berdiri sebagai destinasi tunggal, melainkan menjadi pusat konektivitas berbagai objek wisata di sekitarnya.
Menurutnya, konsep wisata terintegrasi seperti itu telah diterapkan di sejumlah negara maju sektor pariwisatanya, sehingga wisatawan yang datang ke satu destinasi utama dapat diarahkan mengunjungi kawasan penyangga lainnya.
“Di wilayah eks Karesidenan Kedu juga harus begitu. Dampak Borobudur bisa dirasakan oleh Kebumen, dan pantai-pantai Kebumen yang bagus juga bisa dirasakan oleh wisatawan di Borobudur,” ujar Luthfi.
Ia menjelaskan, integrasi tersebut nantinya mencakup konektivitas kawasan Borobudur-Kopeng-Rawa Pening, destinasi wisata Purworejo, hingga kawasan geopark dan wisata pantai di Kebumen.
Selain konektivitas antardestinasi, Pemprov Jateng juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai penguat ekosistem pariwisata daerah.
Saat ini masing-masing daerah telah menyiapkan target pengembangan desa wisata baru, yakni 50 desa wisata di Kabupaten Magelang, 45 desa wisata di Purworejo, 35 desa wisata di Kebumen, 30 desa wisata di Temanggung, serta lima desa wisata di Kota Magelang.
“Kita siapkan sekarang agar tahun 2027 tinggal pelaksanaan. Infrastruktur menuju destinasi wisata juga harus menjadi prioritas,” katanya.
Luthfi juga meminta pemerintah daerah memperbanyak penyelenggaraan event wisata untuk menarik kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Kalau setahun baru 100 event, itu masih kurang. Tambah lagi. Pariwisata ini sektor yang tidak mengenal resesi,” tegasnya.
Untuk mendukung sinergi pengembangan wisata, Pemprov Jateng juga akan berkoordinasi dengan pengelola kawasan Candi Borobudur guna menyusun pola pengembangan yang tetap menjaga nilai warisan budaya dunia tersebut.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai manfaat ekonomi Borobudur masih perlu diperluas agar lebih dirasakan masyarakat sekitar. Salah satu gagasan yang tengah didorong adalah membuka kawasan Borobudur pada malam hari.
“Kami berupaya agar Borobudur bisa dibuka malam hari. Dengan begitu potensi okupansi perhotelan di Magelang bisa ikut terangkat,” ujarnya.
Bupati Temanggung Agus Setyawan berharap promosi Borobudur dapat dikolaborasikan dengan pengembangan wisata Sindoro-Sumbing yang saat ini mulai berkembang bersama komunitas lokal.
Sedangkan Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah mengusulkan adanya kalender event terpadu untuk seluruh kawasan aglomerasi agar promosi wisata lebih efektif dan tidak terjadi benturan jadwal kegiatan.
Melalui integrasi destinasi wisata, penguatan desa wisata, dan kolaborasi promosi antardaerah, Pemprov Jawa Tengah berharap Borobudur dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi kawasan Keburejo-Gelangmanggung secara berkelanjutan. (jn02)
