Melihat Malam 1 Suro dari Mata Generasi Muda, Sabiq Puspo Wardoyo Ajak Lestarikan Budaya Jawa

0
image

Sabiq Puspo Wardoyo putra pengusaha nasional sekaligus pendiri Wong Solo Group, Puspo Wardoyo (JatengNOW/Dok)

SOLO, JATENGNOW.COM – Suasana sakral Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Surakarta Hadiningrat meninggalkan kesan mendalam bagi Sabiq Puspo Wardoyo. Putra pengusaha nasional sekaligus pendiri Wong Solo Group, Puspo Wardoyo, itu mengaku terpukau melihat antusiasme masyarakat dan kuatnya upaya pelestarian budaya Jawa yang masih terjaga hingga kini.

Sabiq hadir langsung di kompleks Keraton Surakarta pada Selasa (16/6/2026) malam untuk menyaksikan rangkaian tradisi penyambutan Tahun Baru Jawa 1 Suro. Meski baru pertama kali mengikuti prosesi kirab pusaka, ia mengaku merasakan atmosfer budaya yang begitu kuat.

“Kesannya luar biasa. Banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam acara kirab dan antusiasme warga untuk menjaga kelestarian budaya di Kota Solo ini sangat tinggi,” ujarnya.

Bagi Sabiq, kunjungannya kali ini menjadi pengalaman berbeda dibanding kunjungan pertamanya ke Keraton Surakarta sekitar tiga tahun lalu. Saat itu ia datang sekadar berkunjung dan belum pernah menyaksikan langsung prosesi Kirab Malam 1 Suro.

Ia mengaku sempat terkejut melihat bagaimana budaya Jawa masih begitu hidup dan terjaga di Kota Solo.

“Saya melihat budaya di Kota Solo sangat terjaga. Yang paling terasa adalah nuansa heritage dan Jawanya benar-benar kuat. Itu yang membuat saya kagum,” katanya.

Ketertarikan Sabiq terhadap budaya ternyata tidak hanya sebatas tradisi keraton. Ia mengaku memiliki minat besar terhadap berbagai bentuk kesenian dan warisan budaya, mulai dari tari tradisional, musik Jawa, seni lukis, hingga aspek spiritual yang melekat dalam tradisi Nusantara.

“Saya termasuk orang yang suka kesenian dan pelestarian budaya. Saya selalu terpukau melihat adat yang dijaga turun-temurun dan sampai sekarang masih eksis,” ungkapnya.

Tak hanya mengapresiasi nilai budaya, Sabiq juga melihat dampak positif yang ditimbulkan dari penyelenggaraan Kirab Malam 1 Suro bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan budaya berskala besar seperti ini mampu menggerakkan sektor ekonomi lokal, terutama pelaku UMKM.

“Dampaknya luar biasa. UMKM bergerak, perputaran ekonomi hidup, dan masyarakat juga semakin memiliki kesadaran untuk menjaga budaya yang menjadi identitas kotanya,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Sabiq juga mengungkapkan keinginannya untuk kembali hadir dalam Kirab Malam 1 Suro pada tahun mendatang. Bahkan, ia berharap bisa tampil lebih menyatu dengan suasana tradisi dengan mengenakan busana adat Jawa lengkap.

“Awalnya saya ingin ikut dengan beskap, tetapi karena ini pengalaman pertama, mungkin tahun depan saya akan datang dengan pakaian yang sesuai untuk kirab,” tuturnya.

Selain itu, ia berharap tradisi yang menjadi bagian dari warisan budaya Keraton Surakarta semakin dikenal oleh generasi muda, khususnya kalangan Gen Z.

“Harapannya semakin banyak anak muda yang mengenal budaya seperti ini. Semakin banyak yang tahu, semakin besar pula peluang budaya ini terus lestari dan diwariskan ke generasi berikutnya,” katanya.

Malam itu, Sabiq bahkan memilih bertahan lebih lama di kawasan keraton untuk menantikan kemunculan kerbau pusaka Kiai Slamet yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Malam 1 Suro.

“Penasaran sekali ingin melihat langsung. Selama ini hanya melihat dari video. Jadi kalau bisa malam ini saya ingin menunggu sampai kerbaunya keluar,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Sabiq, pengalaman menyaksikan langsung Kirab Pusaka Malam 1 Suro bukan sekadar menghadiri sebuah acara budaya, melainkan juga menjadi momen untuk memahami pentingnya menjaga warisan leluhur yang telah bertahan lintas generasi di Kota Solo. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *