Punya Segudang Bisnis, Ini Cara Katno Hadi Membagi Waktu dan Menjaga Usaha Tetap Berjalan

0
IMG-20260809-WA0032

Prof. Dr. KP. H. Katno Hadi, S.E., M.M., M.H.

SOLO, JATENGNOW.COM – Menjalankan banyak lini bisnis sekaligus aktivitas akademik, organisasi, keluarga, dan sosial bukan perkara mudah. Namun, bagi Prof. Dr. KP. H. Katno Hadi, S.E., M.M., M.H., kuncinya adalah membangun sistem, melakukan kaderisasi, serta mampu membagi waktu.

Katno Hadi baru saja dikukuhkan sebagai guru besar di ASEAN University International, Malaysia, pada 4 Agustus 2026. Gelar profesor di bidang ekonomi bisnis tersebut membuat tanggung jawabnya semakin bertambah, mulai dari mengajar, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, menulis jurnal hingga menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

Di tengah kesibukan tersebut, Katno tetap menjalankan sejumlah usaha yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Bisnis yang digelutinya cukup beragam, mulai dari sektor kuliner, pariwisata, peternakan, garmen hingga industri bahan bangunan.

“Namanya orang kalau dibilang repot, semua pasti repot. Tergantung bagaimana kita bisa membagi waktu. Waktu itu ada untuk keluarga, ada untuk bisnis, ada untuk sosial,” kata Katno saat ditemui di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Minggu (9/8/2026).

Bisnis Beragam, Pengelolaan Harus Menggunakan Sistem

Sejumlah usaha yang dijalankan Katno Hadi antara lain D’Gondangrejo Resto & Resort serta D’Lawu Bistro & Mountain Cottage yang bergerak di sektor kuliner dan pariwisata.

Selain itu, ia juga memiliki bisnis kuliner Sop Ayam Pak No, peternakan ayam petelur, usaha garmen, hingga industri bahan bangunan melalui pabrik Semen Instan Ubond dan Mortar Merapi.

Keragaman bisnis tersebut membuat Katno menyadari bahwa seluruh pekerjaan tidak mungkin dikerjakan sendiri. Karena itu, ia mulai membangun sistem sekaligus melakukan kaderisasi di lingkungan keluarga.

“Bisnis, istri saya membantu bisnis, anak-anak saya sudah saya kaderisasi. Malah saya kadang enggak punya pekerjaan karena sudah dijalankan anak-anak,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital juga semakin memudahkan pengelolaan perusahaan.

“Sekarang ini sudah era digitalisasi, era sistem-sistem yang sudah kita jalankan,” katanya.

Dengan sistem tersebut, pemilik usaha tidak harus selalu berada di lapangan untuk mengawasi seluruh aktivitas operasional. Pengelolaan dapat dilakukan oleh tim yang telah diberikan tanggung jawab sesuai bidang masing-masing.

Industri Mortar Tumbuh, Produksi Capai Over Capacity

Salah satu lini usaha Katno yang saat ini mengalami perkembangan signifikan adalah industri semen mortar di Klaten.

Katno mengungkapkan, produksi pabriknya telah mencapai over capacity. Bahkan, operasional perusahaan berjalan selama 24 jam untuk memenuhi permintaan pasar.

“Perusahaan semen mortar saya yang ada di Klaten itu kita sudah over produksi, over capacity. Produksi kita sudah over capacity, kerja sudah 24 jam,” ungkapnya.

Namun, menghadapi peningkatan permintaan tersebut, Katno tidak serta-merta hanya berfokus menambah kapasitas produksi.

Ia justru ingin memperkuat sisi hulu, terutama memastikan pasokan bahan baku tetap tersedia.

“Saya mengembangkannya bukan mau bukanya, tetapi mengembangkannya ke atas. Bagaimana supply kebutuhan bahan baku teratasi. Saat ini kami masih kesulitan kalsit,” jelasnya.

Menurut Katno, kebutuhan kalsit untuk produksi saat ini cukup besar. Bahkan, perusahaan membutuhkan sekitar lima truk trailer setiap hari karena aktivitas produksi berlangsung selama 24 jam.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan bahan baku menjadi salah satu persoalan yang harus segera diantisipasi, terutama ketika memasuki musim hujan yang dapat memengaruhi rantai pasokan.

Kembangkan Bisnis Pariwisata Terintegrasi

Selain industri bahan bangunan, Katno juga mengembangkan bisnis di sektor pariwisata dengan konsep integrated tourism.

Konsep tersebut sebelumnya menjadi bagian dari penelitian Katno di wilayah Solo Raya. Ia melihat sektor pariwisata memiliki potensi besar apabila berbagai komponen, seperti destinasi wisata, hotel, restoran, UMKM, wisata edukasi hingga pusat oleh-oleh, dapat terhubung dalam satu ekosistem.

Katno menyebut kawasan yang dikembangkannya di Gondangrejo dan Tawangmangu diarahkan menuju konsep tersebut.

Di kawasan tersebut telah tersedia sejumlah fasilitas, antara lain restoran, pusat oleh-oleh, area olahraga, gedung pertemuan dan berbagai fasilitas wisata lainnya.

Ke depan, masih terdapat sejumlah pengembangan yang direncanakan, termasuk wahana waterboom, hotel dan tempat konser terbuka.

Menurut Katno, konsep wisata terintegrasi akan lebih optimal apabila terdapat konektivitas antardestinasi di Solo Raya.

Wisatawan yang datang ke Solo, misalnya, dapat diarahkan menikmati wisata budaya di Keraton Surakarta, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tawangmangu, Grojogan Sewu, kawasan perkebunan teh Kemuning, kuliner hingga pusat oleh-oleh.

“Ini yang sebetulnya dari yang namanya integrated tourism seperti itu. Tapi sekarang ini masih putus-putus. Orang datang ke Solo, wisata budayanya oke, kulinernya oke. Tapi ketika mau ke Tawangmangu atau ke pegunungan harus cari shuttle sendiri. Jadi belum terkoneksi dengan baik,” jelasnya.

Ia menilai pengembangan konsep tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha.

Dari Ayam Petelur hingga Rencana Peternakan Sapi

Di sektor peternakan, Katno juga telah menjalankan usaha ayam petelur selama sekitar delapan tahun.

Kini, ia mulai mempersiapkan pengembangan bisnis baru berupa peternakan sapi.

Katno mengaku masih melakukan kajian karena peternakan sapi merupakan bidang baru yang ingin digelutinya. Ia berencana menggunakan konsultan agar pengelolaan peternakan dapat dilakukan dengan sistem yang tepat.

“Kita mau uji coba dulu. Harapan kami minimal pertama nanti 200, terus kita kembangkan sampai target kita 2.000,” ungkapnya.

Untuk lokasi, Katno mempertimbangkan wilayah Karanganyar dan Wonogiri. Menurutnya, kedua wilayah tersebut memiliki potensi dan tata ruang yang dapat mendukung pengembangan peternakan.

Ia juga melihat peluang bisnis sapi cukup besar karena kebutuhan daging sapi masih tinggi. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah tingginya harga daging sapi yang berdampak terhadap pelaku usaha kuliner, termasuk pengusaha bakso.

Namun, Katno menegaskan pengembangan peternakan sapi tetap akan dilakukan secara hati-hati.

“Saya kan belum pernah bisnis peternakan sapi. Tentunya saya juga harus hati-hati bagaimana memutuskan bisnis itu agar ada profit dan sebagainya,” katanya.

Bisnis, Akademik dan Organisasi Berjalan Bersamaan

Di luar bisnis, Katno juga aktif dalam kegiatan organisasi dan sosial. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Komitra Polri.

Di bidang akademik, sebagai guru besar, Katno menyebut terdapat sejumlah tanggung jawab yang harus dijalankan. Selain mengajar sebagai dosen senior, ia juga harus membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, menghasilkan publikasi ilmiah serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga harus menjalankan aktivitas akademik di Malaysia secara berkala. Sementara homebase akademiknya berada di Universitas Prisma Manado dan ia berharap ke depan dapat membuka cabang universitas tersebut di Solo.

Kesibukan tersebut membuat kemampuan mengatur waktu menjadi sangat penting.

Katno membagi waktu untuk keluarga, bisnis, kegiatan sosial, organisasi dan akademik. Ia juga mulai menyerahkan sebagian pengelolaan usaha kepada anak-anaknya yang telah dipersiapkan melalui proses kaderisasi.

Bagi Katno, bisnis tidak boleh membuat seseorang melupakan kehidupan sosial dan spiritual.

“Kita pokoknya yang penting dalam bersosialisasi pada masyarakat itu tentunya ada sifat sosialnya. Jangan hidup itu dipakai ego sendiri, mengurusi bisnis terus,” tuturnya.

Ia menyadari setiap bisnis memiliki risiko. Karena itu, menurutnya, pengusaha harus memiliki manajemen usaha dan sumber daya manusia yang baik agar mampu bertahan dalam berbagai kondisi.

“Semua bisnis itu ada risikonya. Asalkan manajemen kita benar, manajemen kepegawaiannya benar, insyaallah masih bisa survive,” ujarnya.

Bagi Katno Hadi, perjalanan membangun berbagai usaha bukan sekadar mengejar pertumbuhan bisnis. Ia ingin setiap usaha yang dikembangkan memiliki manfaat lebih luas, sekaligus menjadi ruang bagi keluarga dan generasi berikutnya untuk meneruskan apa yang telah dibangun.

Dengan sistem, kaderisasi dan pembagian waktu yang tepat, berbagai aktivitas tersebut diharapkan dapat tetap berjalan beriringan tanpa harus bergantung pada satu orang.

Di tengah bertambahnya tanggung jawab setelah menyandang gelar guru besar, Katno pun memilih menjalaninya dengan santai dan penuh optimisme.

“Semua dijalani dengan enjoy saja,” pungkasnya. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *