September 11, 2026

SIPA 2026 Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Dunia Bertemu di Solo

0
thumnail (2)

SIPA 2026 Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Dunia Bertemu di Solo (JatengNOW/Dok)

SOLO, JATENGNOW.COM – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali mempertemukan seniman Indonesia dan mancanegara dalam satu panggung pertunjukan di Kota Solo.

Memasuki penyelenggaraan tahun ke-18, SIPA 2026 tidak hanya menghadirkan tari, musik, seni tradisi, dan seni kontemporer, tetapi juga membawa misi memperkuat hubungan budaya antarnegara melalui seni pertunjukan.

Mengusung tema “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”, SIPA 2026 digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, mulai 10 September 2026.

Sejumlah delegasi dari Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Taiwan, dan Malaysia hadir bersama kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia.

Rangkaian pembukaan diawali dengan Opening Ceremony yang dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Acara kemudian diisi sambutan Direktur SIPA, perwakilan Mangkunegaran, Wakil Wali Kota Solo, serta perwakilan Kementerian Pariwisata RI.

Direktur SIPA Irawati Kusumorasri mengatakan tema tahun ini membawa gagasan mengenai kreativitas yang tidak dibatasi sekat geografis maupun budaya.

“Di dalam tema Kinetic Kinship: Beyond Boundaries terdapat imajinasi daya cipta tak kasat mata, dimana SIPA meleburkan segala batasan, hanya ada ruang luas untuk mengekspresikan ide dan visi kreatif,” ujar Irawati.

GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo dari Mangkunegaran mengapresiasi konsistensi SIPA dalam menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang budaya.

“Atas nama Mangkunegaran, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada SIPA serta berbagai pihak yang bekerjasama yang telah menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya dinikmati secara visual melainkan menjadi sesuatu yang dapat mempertemukan manusia, gagasan, dan budaya dalam satu wadah,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani. Menurutnya, keberadaan SIPA turut memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Kota Solo.

“SIPA memiliki arti penting untuk Kota Solo sendiri, hadirnya SIPA ini memperkuat ekosistem pertunjukan budaya serta memperkuat status Kota Solo sebagai Kota Budaya,” ujar Astrid.

Perwakilan Kementerian Pariwisata RI Antonio Prakoso juga memberikan apresiasi atas konsistensi SIPA yang kembali masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN).

“Apresiasi kepada SIPA yang konsisten terpilih menjadi salah satu event jajaran Karisma Event Nusantara (KEN), ini menunjukkan konsistensi SIPA dalam menghadirkan festival budaya yang berkomitmen menjadikan sebuah panggung yang mempertemukan beragam budaya, mempertemukan beragam manusia serta seniman yang diperhitungkan di kancah Internasional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Piagam KEN sebagai bentuk apresiasi terhadap SIPA atas kontribusinya dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Opening Ceremony kemudian ditandai dengan pemukulan alat musik oleh Direktur SIPA, perwakilan Mangkunegaran, Wakil Wali Kota Solo, dan perwakilan Kementerian Pariwisata RI.

Pesta kembang api turut menjadi bagian dari pembukaan yang menandai dimulainya rangkaian pertunjukan SIPA 2026.

Usai pembukaan, panggung SIPA 2026 langsung menghadirkan pertunjukan kolaboratif yang melibatkan Ambassador SIPA 2026, Semarak Candrakirana Art Center, Sanggar Sikambang Manih, dan ISI Padang Panjang.

Kolaborasi tersebut memadukan seni tradisi dengan eksplorasi artistik kontemporer. Konsep ini menjadi bagian dari upaya SIPA menghadirkan karya yang tetap berakar pada budaya, tetapi relevan dengan perkembangan zaman.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan kehadiran Duta Besar Selandia Baru Philip Nathan Taula.

Menurutnya, hubungan kebudayaan dapat menjadi salah satu fondasi hubungan antarnegara yang bertahan dalam jangka panjang.

“Beberapa hubungan yang paling kuat yang bertahan lama, justru terletak pada hubungan budaya. Salah satu tempat kerjasama kebudayaan antara kedua negara ini adalah SIPA,” kata Philip.

Pertunjukan internasional kemudian dibuka oleh Ohinemataroa dari Selandia Baru melalui karya “Kapa Haka”.

Karya tersebut menampilkan ekspresi seni masyarakat Māori yang memadukan gerak, musik, nyanyian, dan tradisi.

Dari Korea Selatan, Nomadart tampil membawakan karya berjudul “Logic”. Sementara Seed Dance Company dari Taiwan menghadirkan karya “Lost Connection” yang mengangkat persoalan hubungan manusia dengan teknologi melalui bahasa tubuh dan gerak.

SIPA 2026 juga memberikan ruang besar bagi kelompok seni dari Indonesia.

Kemantren Langenpraja Mangkunegaran-Surakarta tampil membawa representasi kekayaan tradisi Kota Solo. Penampilan tersebut menjadi bagian dari pertemuan antara seni lokal dengan karya-karya internasional di satu panggung.

Selanjutnya, Gaung Marawa dari Sumatera Barat membawakan karya “Tarekat (Nyanyian Surau)”.

Pertunjukan tersebut memperlihatkan keberagaman ekspresi seni Nusantara yang hadir berdampingan dengan karya dari berbagai negara.

Kehadiran kelompok seni Indonesia dan delegasi internasional menjadikan SIPA 2026 sebagai ruang pertukaran budaya. Masyarakat tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mengenal beragam karakter seni dari negara lain.

Di sisi lain, para seniman Indonesia memperoleh ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada penonton dan delegasi mancanegara.

Rangkaian SIPA 2026 ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para seniman dan delegasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

Melalui penyelenggaraan tahun ke-18 ini, SIPA kembali menempatkan seni pertunjukan sebagai bahasa universal sekaligus jembatan diplomasi budaya.

Festival tersebut juga memperkuat posisi Solo sebagai ruang pertemuan seniman dari berbagai negara dan daerah Indonesia, sekaligus mempertegas identitas Kota Solo sebagai salah satu pusat budaya di Tanah Air. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *