Kirab Budaya Merah Putih Jepara Libatkan 59 Kelompok, Anak PAUD Ikut Hidupkan Tradisi Leluhur
Kirab Budaya Merah Putih Jepara Libatkan 59 Kelompok, Anak PAUD Ikut Hidupkan Tradisi Leluhur (JatengNOW/Dok)
JEPARA, JATENGNOW.COM – Warisan budaya Jepara kembali dihidupkan melalui Kirab Budaya Merah Putih Kabupaten Jepara 2026. Sebanyak 59 nomor atau kelompok peserta menampilkan beragam tradisi, tokoh sejarah, hingga kesenian lokal dalam satu arak-arakan yang melibatkan berbagai generasi.
Peserta kirab berasal dari berbagai jenjang, mulai anak-anak PAUD hingga kelompok umum. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas budaya Jepara sekaligus mendekatkan tradisi lokal kepada generasi muda.
Salah satu peserta yang menarik perhatian yakni TK Terpadu Tarbiyatul Athfal Muslimat NU Jepara, Kelurahan Demaan, Kecamatan Jepara. Mereka menampilkan tradisi Obor Tegalsambi dengan melibatkan anak-anak usia dini.
Tradisi yang menjadi salah satu identitas budaya Jepara tersebut dikemas dengan kostum bernuansa modern tanpa menghilangkan pesan utama mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur.
Guru pendamping, Lia, mengatakan persiapan penampilan dilakukan sekitar dua pekan. Tantangan terbesar bukan hanya mempersiapkan pertunjukan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai makna tradisi yang mereka bawakan.
“Tantangannya menyiapkan anak-anak usia dini. Kami harus mengenalkan bahwa tradisi ini perlu dilestarikan,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Menurut Lia, keterlibatan anak-anak dalam kirab menjadi bagian penting dalam proses regenerasi budaya. Tradisi, kata dia, tidak cukup hanya dikenang melalui cerita, tetapi perlu dikenalkan dan dipraktikkan sejak usia dini.
Keragaman peserta membuat Kirab Budaya Merah Putih menjadi gambaran keterlibatan lintas generasi dalam menjaga budaya Jepara.
Sejumlah tradisi dan tokoh sejarah Jepara juga ditampilkan dalam parade. Di antaranya Perang Obor, Pesta Lomban, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, hingga R.A. Kartini.
Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan, kirab tidak semata-mata diarahkan untuk menentukan pemenang. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan kebudayaan Jepara sekaligus memberikan ruang bagi pelaku UMKM lokal.
“Keberadaan kirab diharapkan mampu membuat budaya Jepara semakin dikenal dan terus berkembang. Keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi salah satu kunci agar warisan budaya tidak berhenti pada generasi sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu juri, Sarjono, mengatakan penilaian peserta meliputi sejumlah aspek, seperti penampilan, kreativitas, kekompakan, serta kesesuaian dengan tema.
“Seluruh peserta telah memenuhi kriteria yang ditetapkan,” katanya.
Pada akhirnya, Kirab Budaya Merah Putih Jepara bukan hanya tentang siapa yang tampil paling menarik atau menjadi pemenang. Di balik arak-arakan tersebut terdapat proses pewarisan nilai, sejarah, dan tradisi dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Anak-anak belajar mengenal warisan leluhur, masyarakat kembali menyaksikan identitas budayanya, sementara kemeriahan kegiatan turut menghidupkan aktivitas ekonomi warga.
Budaya pun tidak sekadar dipertontonkan. Melalui kirab, tradisi kembali hadir di tengah masyarakat dan mendapat ruang untuk terus diteruskan kepada generasi mendatang. (jn02)
