Kekeringan Jateng Diprediksi hingga September, Gus Yasin Dorong Modifikasi Cuaca
Kekeringan Jateng Diprediksi hingga September, Gus Yasin Dorong Modifikasi Cuaca (JatengNOW/Dok)
BATANG, JATENGNOW.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026.
Salah satu langkah yang didorong Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen adalah melakukan modifikasi cuaca. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah.
“Dengan harapan ini bisa mengurangi kekeringan panjang di tahun ini,” kata Taj Yasin seusai memberikan mauidhah hasanah dalam acara Dzikro Maulidurrosul Muhammad SAW di Ponpes Ar Roudloh Babadan, Limpung, Batang, Selasa (25/8/2026).
Dorongan modifikasi cuaca itu disampaikan menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah terkait potensi kekeringan meteorologis.
Untuk periode 21-31 Agustus 2026, sebanyak 14 daerah di Jawa Tengah ditetapkan dalam status Awas kekeringan meteorologis.
Daerah tersebut meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.
BMKG juga memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berpeluang mengalami curah hujan rendah hingga akhir September 2026. Bahkan, awal September dipetakan menjadi fase paling kering.
Menurut Taj Yasin, kondisi tersebut tidak hanya perlu dihadapi dengan langkah darurat. Ancaman kekeringan juga harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola air secara jangka panjang.
Salah satunya dengan memastikan pembangunan infrastruktur dan permukiman tetap menyediakan ruang bagi air untuk meresap ke dalam tanah.
Gus Yasin menyoroti pembangunan permukiman yang terlalu banyak menggunakan beton. Kondisi itu dinilai dapat mengurangi area resapan air.
“Ini peringatan buat kita, bahwa ke depan kita harus membenahi infrastruktur tanah kita. Pori-porinya harus diperhatikan,” ujarnya.
Ia mendorong pembangunan perumahan tidak sepenuhnya menutup permukaan tanah dengan beton. Keberadaan sumur biopori dan sumur resapan di lingkungan permukiman juga dinilai perlu diperbanyak.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga cadangan air tanah sekaligus mengantisipasi persoalan kekeringan pada masa mendatang.
Sementara itu, untuk menangani dampak kekeringan yang sudah dirasakan masyarakat, Pemprov Jateng melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiagakan armada truk tangki.
Armada tersebut digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan.
Taj Yasin mengatakan koordinasi juga terus dilakukan bersama pemerintah kabupaten dan kota. Koordinasi tersebut terutama untuk memastikan ketersediaan air bersih yang layak dikonsumsi bagi masyarakat di daerah terdampak. (jn02)
