GoTo Cetak Laba Bersih Tiga Kuartal Beruntun, Target EBITDA 2026 Naik hingga Rp3,7 Triliun

0
DSC03465.JPG

GoTo Cetak Laba Bersih Tiga Kuartal Beruntun, Target EBITDA 2026 Naik hingga Rp3,7 Triliun (JatengNOW/Dok)

JAKARTA, JATENGNOW.COM – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) mencatatkan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III 2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi bersih Rp255 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya sekaligus menandai keberhasilan perusahaan membukukan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut.

Dalam laporan kinerja yang diumumkan Kamis (29/10/2026), GoTo mencatatkan pendapatan bersih Rp5,6 triliun, tumbuh 17 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, nilai transaksi bruto inti atau core gross transaction value (GTV) meningkat 89 persen menjadi Rp194 triliun.

Seiring perkembangan tersebut, GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk sepanjang 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun. Sebelumnya, target itu ditetapkan pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengatakan capaian tersebut diraih di tengah tantangan bisnis, termasuk penerapan komisi 8 persen pada layanan GoRide yang mulai berlaku pada Juli 2026.

“Pada kuartal ketiga 2026, GoTo kembali mencatatkan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kesempatan ini, kami juga menyampaikan GoTo akan menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5–3,7 triliun,” kata Hans.

Bisnis GoPay Tumbuh, EBITDA Fintech Melonjak 304 Persen

Segmen teknologi finansial melalui GoPay menjadi salah satu penopang kinerja GoTo. Pada kuartal III 2026, EBITDA yang disesuaikan dari bisnis tersebut mencapai Rp550 miliar, meningkat 304 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan bersih segmen teknologi finansial tumbuh 49 persen menjadi Rp2,3 triliun. Jumlah pengguna bertransaksi bulanan atau monthly transacting users (MTU) juga naik 26 persen menjadi 30,4 juta pengguna.

Dari sisi aktivitas, jumlah transaksi GoPay meningkat 86 persen menjadi 2,8 miliar transaksi. GTV inti tumbuh 96 persen menjadi Rp187 triliun, sedangkan nilai buku pinjaman naik 51 persen menjadi Rp12 triliun.

GoTo pun menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis teknologi finansial menjadi Rp1,9 triliun hingga Rp2 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.

Perusahaan menyatakan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, termasuk memperketat pemberian pinjaman kepada kelompok pengguna dengan tingkat risiko tertinggi.

GoRide Menuju Titik Impas, Bisnis Pengantaran Menguat

Di segmen layanan sesuai permintaan (on-demand services) yang dijalankan Gojek, EBITDA yang disesuaikan tercatat Rp347 miliar, naik 3 persen dibandingkan kuartal III 2025. Pendapatan bersih segmen ini juga meningkat 3 persen menjadi Rp3,3 triliun.

Jumlah pesanan yang berhasil diselesaikan tumbuh 9 persen secara tahunan. Namun, GTV segmen tersebut hanya naik 1 persen menjadi Rp16,9 triliun.

GoTo menjelaskan, kondisi itu dipengaruhi oleh nilai pesanan yang lebih rendah seiring perluasan layanan ke segmen pasar massal serta penyesuaian harga GoRide setelah penerapan komisi 8 persen.

Dampak komisi tersebut terhadap layanan GoRide tercatat sebesar Rp150 miliar pada kuartal III 2026. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan dampaknya sepanjang tahun mencapai Rp300 miliar.

Meski demikian, kinerja GoRide yang sempat mencatat EBITDA disesuaikan negatif pada Juli disebut mulai membaik dan bergerak menuju titik impas.

Sementara itu, bisnis pengantaran atau delivery menunjukkan perkembangan positif. EBITDA yang disesuaikan meningkat 20 persen menjadi Rp227 miliar, dengan margin mencapai 2,1 persen.

Untuk segmen on-demand services, GoTo menaikkan batas atas target EBITDA 2026 menjadi Rp1,6 triliun. Dengan demikian, target terbaru berada pada kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun, dibandingkan sebelumnya Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

GoTo Batalkan 32 Miliar Saham Treasuri

Selain memperkuat kinerja operasional, GoTo juga mengambil langkah terkait struktur permodalan. Perusahaan berencana membatalkan 32 miliar saham treasuri atau sekitar 2,7 persen dari total saham setelah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026.

Pembatalan tersebut diperkirakan efektif dalam dua hingga tiga bulan setelah seluruh proses regulasi yang dipersyaratkan selesai. Langkah ini akan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan persentase kepemilikan pemegang saham yang tersisa, dengan asumsi jumlah saham yang dimiliki masing-masing investor tidak berubah.

GoTo juga melanjutkan program pembelian kembali saham (buyback). Hingga 29 Oktober 2026, perusahaan telah menggunakan dana Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar saham.

Perseroan masih memiliki alokasi dana Rp2,5 triliun untuk program tersebut, yang berlaku hingga Juni 2027.

Hans menegaskan, GoTo akan menjaga disiplin operasional dan alokasi modal untuk memperkuat fundamental bisnis serta memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

Di sisi lain, perusahaan menyatakan tetap memperluas Program Apresiasi Mitra bagi pengemudi. Program tersebut mencakup manfaat BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga umrah gratis.

Dengan peningkatan target EBITDA dan pertumbuhan sejumlah lini usaha, GoTo menargetkan kinerja keuangan yang lebih kuat hingga akhir 2026. Namun, perusahaan tetap menghadapi berbagai risiko, antara lain persaingan, kenaikan biaya, ketidakpastian makroekonomi, dan perubahan regulasi. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *