Keren! Siswa SMPN 1 Lasem Ciptakan REWAX-IoT, Sulap Limbah Malam Batik Jadi Bernilai Tinggi
Keren! Siswa SMPN 1 Lasem Ciptakan REWAX-IoT, Sulap Limbah Malam Batik Jadi Bernilai Tinggi (JatengNOW/Dok)
REMBANG, JATENGNOW.COM – Inovasi teknologi REWAX-IoT atau sistem pemulihan dan daur ulang malam batik berbasis Internet of Things (IoT) karya SMP Negeri 1 Lasem menjadi salah satu inovasi yang mencuri perhatian dalam ajang Rembang Innovation Award 2026 di Pendopo Museum Kartini, Selasa (4/8/2026).
Inovasi tersebut dinilai mampu menghadirkan solusi ramah lingkungan bagi industri batik sekaligus meningkatkan nilai guna limbah malam batik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
REWAX-IoT merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, Lavibiol, yakni sistem pengolahan limbah cair batik melalui proses penyaringan dan sedimentasi. Melalui teknologi tersebut, limbah cair tidak hanya diolah menjadi lebih aman, tetapi juga menghasilkan limbah padat berupa malam batik yang dapat didaur ulang dan digunakan kembali.
Berkat inovasi tersebut, SMP Negeri 1 Lasem berhasil meraih Juara I Kategori Pelajar pada ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 serta Juara II Rembang Innovation Award 2026.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Rembang, Afan Martadi, mengatakan REWAX-IoT menjadi salah satu inovasi paling menonjol karena mampu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat lebih tinggi.
“Inovasi ini mengolah malam limbah batik yang sudah digunakan agar bisa dimanfaatkan kembali. Dari hasil pengujian, kualitas malam hasil daur ulang justru lebih baik dibandingkan malam yang digunakan sebelumnya,” ujar Afan.
Selain memberikan nilai ekonomi bagi para perajin batik, inovasi tersebut juga dinilai mampu mengurangi pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah industri batik.
“Bisa mengurangi limbah dan kualitas malamnya justru lebih bagus setelah dilakukan daur ulang,” tambahnya.
Ketua Tim Krenova SMP Negeri 1 Lasem, Ummi Roihana Zulfa, menjelaskan REWAX-IoT bekerja melalui beberapa tahapan pengolahan untuk memisahkan dan memurnikan kembali malam batik bekas.
“Prosesnya dimulai dari tangki pemanasan dan tangki pemisahan yang berfungsi memisahkan limbah malam batik. Setelah itu malam yang dihasilkan diolah kembali sehingga dapat digunakan lagi untuk membatik seperti biasa,” jelas Ummi.
Ia mengatakan ide tersebut berangkat dari tingginya volume limbah malam batik di Lasem yang mencapai sekitar 100 kilogram setiap bulan.
“Kami memilih inovasi ini karena limbah malam batik di Lasem cukup banyak. Karena itu kami mencoba mengolahnya agar dapat dimanfaatkan kembali dan tidak menjadi limbah yang mencemari lingkungan,” katanya.
Berdasarkan hasil pengujian, malam hasil daur ulang REWAX-IoT memiliki kualitas yang sangat baik. Nilai pH tercatat 7,34 sehingga berada pada kategori aman, sementara uji viskositas menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan malam baru maupun limbah malam sebelum diproses.
Selain itu, hasil pengujian juga menunjukkan daya lekat yang baik, fleksibilitas tinggi, serta titik leleh mencapai 84 derajat Celsius sehingga layak digunakan kembali dalam proses membatik.
Ummi mengungkapkan proses penelitian hingga pengembangan alat tersebut dilakukan sekitar satu bulan sebelum akhirnya diikutsertakan dalam kompetisi inovasi.
Melalui REWAX-IoT, para pelajar SMP Negeri 1 Lasem membuktikan bahwa inovasi teknologi tepat guna dapat menjadi solusi bagi persoalan lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan industri batik Lasem sebagai salah satu warisan budaya khas Kabupaten Rembang. (jn02)
