Liburan Produktif! Pemuda Sekararum Rembang Ajak Anak-anak Belajar Gamelan Setiap Malam

0
IMG-20260712-WA0021

REMBANG, JATENGNOW.COM – Libur sekolah di Desa Sekararum, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, tahun ini terasa berbeda. Jika biasanya anak-anak menghabiskan waktu bermain gawai, kini setiap malam mereka berkumpul memainkan gamelan melalui kegiatan yang diinisiasi komunitas pemuda SKRM Squad.

Suara tabuhan saron, bonang, demung, hingga kendang menggema di desa tersebut sebagai bagian dari latihan gamelan yang digelar rutin selama masa liburan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar, bermain, sekaligus bersosialisasi bagi puluhan anak yang mengikuti latihan.

Pegiat SKRM Squad, Zaenuri, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian para pemuda terhadap minimnya aktivitas positif bagi anak-anak selama libur sekolah.

Menurutnya, setiap tahun banyak anak yang bersekolah di luar daerah pulang ke Sekararum, sementara anak-anak yang tinggal di desa juga sedang menikmati liburan panjang. Kondisi itu membuat sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain telepon genggam.

“Saat liburan banyak anak yang pulang ke Sekararum, sementara yang tinggal di desa juga sedang libur sekolah. Kami melihat mereka belum memiliki kegiatan yang rutin sehingga banyak menghabiskan waktu bermain handphone. Dari situlah muncul ide membuat latihan gamelan setiap malam agar mereka punya aktivitas yang bermanfaat sekaligus bisa berkumpul dengan teman-temannya,” ujar Zaenuri.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional, tetapi juga menjadi upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.

Zaenuri menilai kesenian telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Sekararum. Dahulu, kelompok gamelan dan ketoprak hidup di tengah masyarakat serta menjadi hiburan yang selalu hadir dalam berbagai hajatan maupun kegiatan desa.

“Orang-orang tua di Sekararum dulu banyak yang berkesenian. Gamelan dan ketoprak menjadi hiburan sekaligus pemersatu warga. Kami ingin semangat itu tidak hilang. Kalau anak-anak dikenalkan sejak sekarang, mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki terhadap budaya sendiri,” katanya.

Dalam setiap sesi latihan, peserta dikenalkan berbagai instrumen gamelan, mulai dari saron, demung, bonang hingga kendang. Setelah itu mereka belajar memainkan lagu-lagu sederhana sehingga proses belajar berlangsung santai dan menyenangkan.

Program tersebut juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Para orang tua secara sukarela mengantar dan menunggu anak-anak selama latihan berlangsung. Bahkan hampir setiap malam ada warga yang membawa makanan ringan dan minuman untuk dinikmati bersama para peserta.

“Yang membuat kami terharu, warga sangat mendukung. Orang tua mengantar dan menunggui anak-anak selama latihan. Bahkan hampir setiap malam ada yang membawa jajanan untuk mereka. Semua dilakukan dengan sukarela. Ini membuat kami semakin semangat menjalankan kegiatan,” ungkap Zaenuri.

SKRM Squad sendiri selama ini aktif menggelar berbagai kegiatan sosial, budaya, dan kepemudaan di Sekararum. Di antaranya Festival Nginguk Githok, Pasar Ramadan, hingga berbagai kegiatan pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat.

Menurut Zaenuri, seluruh kegiatan tersebut bertujuan membangun kebersamaan sekaligus menghidupkan potensi desa melalui kreativitas generasi muda.

“Kami ingin SKRM Squad tidak hanya dikenal sebagai komunitas pemuda, tetapi menjadi wadah yang bisa menggerakkan masyarakat. Kalau desanya hidup, budayanya hidup, dan anak mudanya mau bergerak, kami yakin Sekararum akan terus berkembang,” ujarnya.

Salah seorang peserta latihan, Handaruni, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut karena selain belajar memainkan gamelan, ia juga memiliki kesempatan berkumpul bersama teman-temannya.

“Senang bisa bermain sama teman-teman setiap malam. Lagunya juga mudah dimainkan, jadi lama-lama hafal dan semakin semangat latihan,” katanya.

Ke depan, SKRM Squad berharap latihan gamelan tidak berhenti setelah masa libur sekolah usai. Mereka ingin kegiatan tersebut menjadi awal lahirnya generasi baru pelaku seni tradisional di Sekararum.

“Harapan kami sederhana. Anak-anak punya kegiatan positif selama liburan, tidak hanya bermain handphone, sekaligus mulai mencintai budaya daerahnya sendiri. Kalau regenerasi ini berjalan, kami optimistis gamelan dan kesenian tradisional Sekararum akan tetap lestari,” pungkas Zaenuri. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *