Prof. Eko Supriyanto Dikukuhkan sebagai Guru Besar ISI Surakarta, Tegaskan Seni Harus Setara dengan Sains dan Teknologi
Prof. Eko Supriyanto Dikukuhkan sebagai Guru Besar ISI Surakarta, Tegaskan Seni Harus Setara dengan Sains dan Teknologi (JatengNOW/Dok)
SOLO, JATENGNOW.COM – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengukuhkan Prof. Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Koreografi. Pengukuhan berlangsung di Pendapa GPH Joyokusumo ISI Surakarta, Rabu (28/10/2026).
Pengukuhan ini menjadi pencapaian penting bagi ISI Surakarta karena Eko merupakan guru besar pertama di kampus tersebut yang memperoleh pengukuhan melalui jalur kekaryaan seni.
Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., menyampaikan ucapan selamat sekaligus apresiasi kepada Eko dan keluarga yang mendukung perjalanan akademik serta profesionalnya sebagai dosen dan seniman.
“Saya menyampaikan selamat kepada Profesor Eko atas pengukuhan sebagai guru besar yang pertama kali di ISI Surakarta melalui jalur kekaryaan seni,” ujar Bondet.
Menurut Bondet, pencapaian tersebut memperkuat posisi penciptaan seni sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi. Proses berkarya, kata dia, tidak hanya menghasilkan karya artistik, tetapi juga melibatkan identifikasi persoalan, penelusuran, pengembangan metode, pengujian gagasan, hingga evaluasi.
Karena itu, pengukuhan guru besar melalui jalur kekaryaan perlu menjadi momentum untuk meningkatkan mutu karya sekaligus memperjelas kontribusi akademiknya.
Eko merupakan alumnus sekaligus dosen ISI Surakarta. Ia menempuh pendidikan Master of Fine Arts di bidang tari dan koreografi di University of California, Los Angeles (UCLA). Ia juga mengembangkan ruang berkesenian melalui Solo Dance Studio dan EkoDance Company.
Perjalanan profesional Eko mencakup keterlibatan dalam berbagai produksi seni pertunjukan internasional, antara lain sebagai penari dalam Grand World Tour Madonna, konsultan tari untuk produksi The Lion King, serta penari dan koreografer dalam opera A Flowering Tree karya John Adams yang disutradarai Peter Sellars.
Sejumlah karya yang turut memperluas pengenalan koreografi Indonesia di tingkat internasional di antaranya Kyai Jailolo, Balabalau, Salt, dan Ibu-Ibu Belu. Karya-karya tersebut memperlihatkan keterkaitan antara penelitian, kebudayaan lokal, dan proses penciptaan artistik.
Rektor ISI Surakarta juga menyoroti pemikiran ekodramaturgi yang dikembangkan Eko. Pendekatan ini menghubungkan penciptaan seni dengan tubuh, lingkungan, tradisi, serta kehidupan masyarakat, termasuk melalui keterlibatan langsung dengan petani dan lingkungan agraris.
Pemikiran tersebut turut dituangkan dalam buku Jejak Garam di Kulit Gunung: Ekodramaturgi Eko. Menurut Bondet, kontribusi semacam ini perlu terus dikembangkan melalui pendidikan, penelitian, dokumentasi, pengarsipan karya, forum kritik, dan kemitraan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Usai dikukuhkan, Prof. Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. menegaskan bahwa pencapaian akademik tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kedudukan seni agar diakui sejajar dengan bidang ilmu lainnya.
Ia menilai pengembangan ilmu pengetahuan tidak semestinya hanya berpusat pada sains, teknologi, ekonomi, dan matematika. Seni juga memiliki potensi untuk bersaing, memberi manfaat, serta berjalan berdampingan dengan bidang-bidang tersebut.
“Saya ingin membuktikan bahwa tidak hanya STEM, tidak hanya sains, teknologi, ekonomi, matematika, tetapi juga arts atau seni ada di situ. Saya ingin menunjukkan bahwa seni juga bisa bersaing, bisa berdaya guna, dan bisa berdampingan dengan sains dan teknologi,” kata Eko.
Menurutnya, pengukuhan guru besar membuat dirinya semakin yakin bahwa seni perlu memiliki posisi yang sebanding dan berimbang dengan disiplin ilmu lain. Gelar tersebut juga menjadi modal akademik untuk memperkuat posisi tawar seni, baik tradisi maupun kontemporer.
Meski telah mencapai jenjang akademik tertinggi, Eko menegaskan pengukuhan itu bukan akhir dari perjalanan berkesenian. Sebaliknya, ia merasa tertantang untuk terus berkarya dan memulai kembali proses kreatif dengan tanggung jawab yang lebih besar.
“Kalau keresahan tidak ada, yang pasti saya akan terus berkarya. Justru pengukuhan ini membuktikan saya harus memulai dari awal lagi untuk terus berkarya,” ujarnya.
Eko menjelaskan, koreografi merupakan seni menata dan menciptakan tari, baik untuk tradisi maupun karya kontemporer. Baginya, keduanya perlu diperkuat melalui pengembangan keilmuan yang memadai agar seni Indonesia dapat terus tumbuh.
Ia juga ingin mendorong dosen dan akademisi lain, khususnya di bidang koreografi, untuk mengembangkan keilmuan hingga jenjang guru besar. Pendampingan terhadap generasi akademisi berikutnya menjadi salah satu agenda yang ingin ia dorong setelah pengukuhan.
“Saya justru tertantang ingin membantu teman-teman dosen lain di bidang koreografi. Ilmu koreografi harus bisa diciptakan dan dipelajari sampai jenjang guru besar,” tuturnya.
Ia berharap potensi koreografi Indonesia semakin berkembang, berdaya, dan berkelanjutan. Menurutnya, tanggung jawab berkarya tetap melekat pada dirinya, baik sebelum maupun setelah menyandang gelar profesor.
Eko mengakui pengukuhan tersebut menjadi kebanggaan pribadi karena merupakan pencapaian tertinggi dalam perjalanan akademiknya. Namun, ia juga memandang gelar itu sebagai tanggung jawab untuk menyampaikan pemikiran seni melalui narasi yang didukung fakta dan data yang jelas.
Sementara itu, Rektor ISI Surakarta berharap pengalaman dan jejaring internasional Eko dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa dan dosen muda. Ia juga mendorong agar pencapaian tersebut menjadi pemantik bagi sivitas akademika untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan penciptaan seni.
Pengukuhan ini sekaligus menegaskan pentingnya kekaryaan seni dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui penguatan penelitian, praktik artistik, dan pembinaan akademik, koreografi diharapkan terus berkontribusi terhadap perkembangan seni Indonesia serta memperluas dialog dengan disiplin ilmu lainnya. (jn02)
