Kejurkot PBSI Solo Jadi Ajang Pembinaan Dini, Rudy Dorong Lahirnya Atlet Baru
SOLO, JATENGNOW.COM – Kejuaraan Kota (Kejurkot) bulu tangkis Piala Wali Kota Surakarta 2026 tak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya serius membangun regenerasi atlet sejak usia dini di Kota Bengawan.
Berlangsung di GOR FKOR UNS Manahan dari 4–6 Mei 2026, ajang ini menampilkan berbagai atlet usia dini saling unjuk gigi.
Ketua PBSI Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja mendorong penyelenggaraan berbagai kejuaraan berjenjang sebagai langkah strategis memperkuat pembinaan.
Menurutnya, masih ada keprihatinan terhadap perkembangan prestasi bulu tangkis di Solo. Meski jumlah atlet cukup banyak, belum muncul sosok yang mampu menembus level dunia seperti para legenda Indonesia.
“Makanya kami dorong adanya kejuaraan seperti Piala Wali Kota, Kejurkot, hingga Piala Ketua PBSI. Fokusnya anak-anak usia dini, terutama yang belum tergabung di klub besar,” ujarnya.

Ia menilai, kejuaraan ini penting untuk menumbuhkan minat masyarakat, khususnya bagi anak-anak, agar lebih tertarik menekuni olahraga bulu tangkis sejak dini. Dengan adanya wadah kompetisi, potensi yang ada di masyarakat diharapkan bisa berkembang lebih optimal.
Rudy sapaan akrabnya menjelaskan bahwa sistem pembinaan dilakukan secara bertahap melalui tiga level kejuaraan, mulai dari tingkat kota hingga nasional. Piala Wali Kota difokuskan untuk Kejurkot, Piala Ketua PBSI menjangkau wilayah Solo Raya, sedangkan Piala Gubernur dirancang untuk skala nasional.
Dalam pelaksanaannya, antusiasme peserta terbilang tinggi. Salah satu kejuaraan bahkan diikuti ratusan atlet muda dari berbagai klub, dengan dukungan sejumlah sponsor yang ikut mendorong terselenggaranya event tersebut.
Ke depan, PBSI Kota Surakarta telah menyiapkan agenda lanjutan pada akhir tahun, seperti kejuaraan Piala PMS dan Piala Ketua KONI Kota Surakarta. Bahkan, ada rencana untuk meningkatkan level kompetisi ke tingkat provinsi hingga nasional, jika mendapat dukungan dari pengurus di tingkat atas.

Di sisi lain, Rudy juga menyoroti tantangan utama dalam olahraga bulu tangkis, yakni tingginya biaya pembinaan. Menurutnya, hal ini sering menjadi kendala bagi masyarakat dalam mengembangkan bakat anak.
Ia berharap penghargaan dari kejuaraan bisa memberikan nilai tambah, misalnya membantu akses pendidikan bagi atlet muda.
Selain itu, ia juga menyinggung kondisi prestasi bulu tangkis nasional yang dinilai mengalami penurunan. Hal tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama, tidak hanya pengurus olahraga, tetapi seluruh elemen masyarakat.
“Perlu ada kebersamaan, pembinaan yang berkelanjutan, dan dukungan sponsor. Kalau itu terpenuhi, prestasi bisa kembali seperti dulu,” tegasnya.
Melalui berbagai kejuaraan dan program pembinaan yang digelar, PBSI Kota Surakarta berharap mampu melahirkan generasi baru atlet bulu tangkis yang dapat bersaing di level nasional hingga internasional. (jn02)
