Jateng Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
Jateng Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan (JatengNOW/Dok)
SEMARANG, JATENGNOW.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama sejumlah pemangku kepentingan terus mempercepat distribusi air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan selama musim kemarau.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah hingga 24 Juli 2026, sebanyak 6,8 juta liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di berbagai daerah yang mengalami kesulitan air.
Distribusi tersebut berasal dari anggaran APBD Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah kabupaten/kota sebanyak 4.853.800 liter, sedangkan 1.951.500 liter lainnya berasal dari dukungan berbagai pihak, seperti program CSR, PMI, TNI, Polri, dan instansi lainnya.
Secara keseluruhan, bantuan air bersih telah menjangkau 61.139 kepala keluarga (KK) atau sekitar 184.643 jiwa. Adapun tiga daerah yang menerima distribusi air bersih terbanyak adalah Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara.
Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan hingga 24 Juli 2026, dampak musim kemarau telah dirasakan di 25 kabupaten/kota, mencakup 83 kecamatan dan 148 desa. Selain itu, 11 kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.
Meski demikian, ia memastikan ketersediaan air bersih masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Masih ada sisa ketersediaan air bersih sekitar 40 juta liter dari total 44,9 juta liter yang disediakan oleh APBD kabupaten/kota. Terkait air bersih ini masih mumpuni karena ketersediaan anggaran maupun air bersihnya masih tersedia,” kata Bergas saat melaporkan perkembangan kondisi kekeringan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Senin (27/7/2026).
Selain persoalan kekeringan, BPBD juga mencatat meningkatnya kejadian kebakaran selama musim kemarau.
Sejak 5 Juni hingga 19 Juli 2026 terjadi 275 peristiwa kebakaran, terdiri atas 56 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta 219 kebakaran rumah dan gedung.
Menurut Bergas, kebakaran lahan paling banyak terjadi di area perkebunan tebu. Total kerugian akibat karhutla diperkirakan mencapai Rp607 juta, sedangkan kebakaran rumah dan gedung menimbulkan kerugian sekitar Rp27 miliar.
“Karhutla ini yang perlu diantisipasi oleh daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan seluruh pemerintah daerah telah diminta melakukan langkah mitigasi sejak awal musim kemarau, mulai dari memetakan wilayah rawan hingga menyiapkan distribusi air bersih.
“Intinya kebutuhan air bersih masih cukup, tinggal distribusi,” kata Luthfi.
Ia menambahkan, mitigasi tidak hanya difokuskan pada kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga untuk mendukung sektor pertanian agar target produksi padi tahun 2026 tetap tercapai.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengajukan bantuan pompa air kepada Kementerian Pertanian guna mendukung pengairan lahan pertanian selama musim kemarau.
“Kemarin saya sudah ajukan ke Menteri Pertanian untuk bantuan pompa air. Sudah disetujui, tinggal nanti Dinas Pertanian dan Peternakan menindaklanjuti agar bisa segera dikirim,” pungkasnya. (jn02)
