BPBD Salurkan 1,18 Juta Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Lereng Merapi Klaten
BPBD Salurkan 1,18 Juta Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Lereng Merapi Klaten (JatengNOW/Dok)
KLATEN, JATENGNOW.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah bersama BPBD kabupaten/kota terus mengintensifkan penanganan dampak musim kemarau, terutama krisis air bersih yang mulai melanda sejumlah wilayah. Salah satu daerah yang menjadi prioritas adalah Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, yang berada di lereng Gunung Merapi.
Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas C. Penanggungan, mengatakan pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk mengantisipasi dampak kekeringan selama musim kemarau tahun ini.
“Data yang kami terima, dari daerah kabupaten/kota sudah menyiapkan secara totalitas sebanyak 123 juta liter air bersih,” ujar Bergas, Selasa (14/7/2026).
Berdasarkan data BPBD Jawa Tengah, sebanyak 15 kabupaten/kota, meliputi 157 desa di 64 kecamatan, telah terdampak kekeringan. Bantuan air bersih ditujukan kepada 21.949 kepala keluarga atau sekitar 61.456 jiwa.
Sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, distribusi air bersih terus dipantau agar kebutuhan masyarakat di daerah rawan kekeringan dapat terpenuhi.
Salah satu wilayah yang menerima bantuan adalah Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang. Warga setempat mengaku bantuan air bersih sangat membantu karena cadangan air hujan yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari telah habis sejak Mei lalu.
Warga Desa Tlogowatu, Hartoyo, mengatakan hampir setiap rumah mengandalkan tandon penampung air hujan saat musim penghujan. Namun ketika musim kemarau tiba, persediaan air hanya mampu bertahan sekitar dua bulan.
“Harga satu tangki bisa Rp170 ribu sampai Rp220 ribu. Bantuan BPBD sangat membantu, terutama bagi warga yang ekonominya kurang mampu,” katanya.
Menurutnya, sebagian warga yang memiliki ternak masih harus membeli air secara mandiri. Bahkan, tidak sedikit warga yang pergi ke wilayah bawah Kemalang untuk mandi dan mencuci karena masih tersedia sumber air.
Senada, warga lainnya, Sarno Nanto Suwiryo, mengaku keluarganya hampir setiap tahun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Berbagai upaya membuat sumur dalam juga belum membuahkan hasil.
“Kami hanya mengandalkan tandon air hujan. Kalau habis ya membeli air atau menunggu bantuan pemerintah. Terima kasih karena BPBD selalu membantu kami saat kemarau,” ujarnya.
Kepala Desa Tlogowatu, Suprat Widoyo, menjelaskan pemerintah desa telah menyiapkan bak penampungan air di setiap RT agar distribusi bantuan lebih merata. Jika persediaan habis, pemerintah desa segera mengajukan permohonan penyaluran air bersih berikutnya kepada BPBD.
“Selama ini memang masih banyak mengandalkan bantuan BPBD untuk dropping air bersih ke bak-bak penampungan umum milik desa yang kami sediakan di tiap RT,” katanya.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan jaringan pipa PDAM dari Tangkil menuju Tlogowatu. Infrastruktur tersebut ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 60 hingga 70 persen warga.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, menyebut empat desa di Kecamatan Kemalang, yakni Tegalmulyo, Sidorejo, Tlogowatu, dan Kendalsari, mulai mengalami kekeringan sejak pertengahan Mei 2026.
“Hingga saat ini kami telah menyalurkan 236 tangki atau sekitar 1.180.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak,” ujarnya.
BPBD Klaten menyiapkan sekitar 1.000 tangki air bersih serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September, bahkan distribusi bantuan disiapkan sampai Oktober.
Syahruna juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Selain potensi kekeringan, cuaca panas juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta gangguan kesehatan. (jn02)
