Harga Daging Jadi Momok, Prof Katno Hadi Usul Bangun Peternakan Sapi Terintegrasi untuk Pengusaha Bakso Wonogiri
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno didampingi Prof. Dr. Katno Hadi usai pengukuhan pengurus pengusaha bakso wonogiri mendunia di Pendopo Kantor Bupati (JatengNOW/Dok)
WONOGIRI, JATENGNOW.COM – Pembina Perkumpulan Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia, Prof. Dr. Katno Hadi, mendorong pembangunan peternakan sapi terintegrasi di Kabupaten Wonogiri sebagai solusi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga daging bagi pelaku usaha bakso. Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Bupati Wonogiri Setyo Sukarno yang siap mendukung penguatan ekosistem usaha bakso di daerahnya.
Hal itu disampaikan dalam acara Pengukuhan Pengurus Perkumpulan Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia periode 2026-2033 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jumat (31/7/2026) malam.
Prof. Katno Hadi yang juga menjabat sebagai Ketum Senkom Mitra Polri mengatakan, berdasarkan hasil diskusi dengan para pelaku usaha, persoalan terbesar yang dihadapi pengusaha bakso saat ini adalah rantai pasok daging sapi yang dinilai belum stabil.
Menurutnya, fluktuasi harga daging secara langsung memengaruhi biaya produksi para pelaku usaha bakso dan mi ayam di berbagai daerah.
“Ternyata persoalan utamanya ada pada rantai pasok. Harga daging terus berubah sehingga menjadi tantangan bagi para pelaku usaha bakso,” ujarnya.
Owner ‘D’Lawu Bistro, Mountain Cottage dan D’Gondangrejo Resto itu mengusulkan pembentukan peternakan sapi terintegrasi sebagai proyek percontohan di Wonogiri. Pada tahap awal, peternakan tersebut ditargetkan mampu memelihara sekitar 200 ekor sapi.
Katno berharap Pemerintah Kabupaten Wonogiri dapat memfasilitasi penyediaan lahan agar program tersebut dapat segera direalisasikan.
“Harapan kami, pemerintah bisa memfasilitasi lahan sehingga kami dapat memulai pilot project peternakan sekitar 200 ekor sapi. Ini menjadi langkah awal membangun kemandirian bahan baku bagi pengusaha bakso,” katanya.
Menurutnya, konsep integrasi tersebut terinspirasi dari pengalamannya mengembangkan peternakan ayam petelur yang mampu menekan biaya produksi melalui pengelolaan pakan secara mandiri.
Ia optimistis konsep serupa dapat diterapkan pada sektor peternakan sapi untuk memperkuat rantai pasok bahan baku bakso.
Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai organisasi Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas kuliner khas Wonogiri sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dengan adanya organisasi ini kami berharap semakin solid, kerja sama semakin kuat, dan branding Bakso Wonogiri maupun Mi Ayam Wonogiri semakin dikenal luas,” ujarnya.
Setyo mengatakan, penguatan ekosistem usaha menjadi salah satu fokus yang perlu dikembangkan, termasuk pembenahan rantai pasok bahan baku sebagaimana diusulkan Prof. Katno Hadi.
Menurutnya, apabila seluruh mata rantai usaha dapat berjalan dengan baik, maka daya saing pelaku usaha bakso Wonogiri akan semakin meningkat.
Ia juga optimistis brand Bakso Wonogiri memiliki peluang besar menembus pasar internasional mengingat banyak pelaku usaha asal Wonogiri yang telah membuka usaha di berbagai negara, seperti Arab Saudi dan Malaysia.
“Harapan kami, Bakso Wonogiri semakin mendunia dan mampu menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian daerah,” tandasnya. (jn02)
