Kenang 91 Tahun W.S. Rendra, Sawung Jabo hingga Butet Kartaredjasa Siap Tampil di Solo 9 November
SOLO, JATENGNOW.COM – Sejumlah seniman lintas generasi akan berkumpul di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta dalam konser musikalisasi puisi bertajuk Mengolah Daya Hidup: Memperingati 91 Tahun W.S. Rendra, Senin (9/11/2026).
Pertunjukan ini tidak sekadar menjadi panggung apresiasi terhadap karya penyair dan dramawan legendaris W.S. Rendra. Konser tersebut juga menjadi ajang reuni para murid, sahabat, dan alumni Bengkel Teater untuk kembali merawat nilai-nilai kesenian yang mereka pelajari bersama sang maestro.
Kesiapan acara itu disampaikan dalam jumpa pers di Pendopo TBJT Surakarta, Selasa (27/10/2026). Hadir dalam kesempatan tersebut produser Farchan Asy’ary, Romo Hartono, sutradara pertunjukan Iwan Burnani Toni, Humas Eddie Karsito, manajer produksi Sruti Respati, serta perwakilan Yayasan Bengawan Solo Gong dan tim kreatif SOCreative.
Produser Farchan Asy’ary menjelaskan, gagasan pertunjukan bermula dari komunikasi antara Iwan Burnani Toni, Romo Hartono, dan Sawung Jabo. Ide tersebut sebelumnya sempat digagas untuk digelar di Yogyakarta, tetapi kemudian diarahkan ke Kota Solo.
“Dari hasil pembicaraan itu timbul untuk dibikin acara. Sekarang kita akan kerjakan,” kata Farchan.
Ia menyebut konser ini memiliki dua tujuan utama, yakni mempertemukan kembali para murid dan alumni Bengkel Teater serta memperingati 91 tahun kelahiran W.S. Rendra.
Farchan berharap pertunjukan tersebut menjadi awal dari kegiatan seni yang dapat diselenggarakan secara rutin di Solo.
“Ya mudah-mudahan ini nanti akan bisa berhasil. Mudah-mudahan bisa mengadakan acara-acara secara rutin di Solo untuk kegiatan-kegiatan seni,” ujarnya.
Konser Mengolah Daya Hidup akan memadukan pembacaan puisi, musik, teater, dan tari dalam satu pertunjukan. Karya-karya Rendra akan dihadirkan kembali melalui pendekatan musikal dan kontemporer, sekaligus mengangkat kritik sosial, cinta, spiritualitas, dan pemikiran kemanusiaan yang melekat dalam karya-karyanya.
Sutradara pertunjukan, Iwan Burnani Toni, mengatakan konsep Mengolah Daya Hidup berangkat dari cara Rendra memandang seni dan sastra sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kesenian bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan juga sarana untuk merespons persoalan sosial dan menjaga kepekaan nurani.
“Konser ini mereaktualisasikan esensi tersebut. Jadi karya-karya Rendra yang sarat kritik, cinta, dan spiritualitas tidak dibiarkan menjadi artefak masa lalu yang kaku,” ujar Iwan.
Pemilihan Solo sebagai lokasi pertunjukan juga memiliki makna tersendiri. Kota ini merupakan tanah kelahiran Rendra, sehingga penyelenggaraan konser di Solo dipandang sebagai upaya merawat hubungan antara karya sang maestro dan akar kebudayaannya.
Membawa kembali karya Rendra ke kota kelahirannya diharapkan dapat membuka ruang perjumpaan bagi generasi muda untuk mengenal pemikiran dan perjalanan keseniannya.
Konser ini menghadirkan sejumlah seniman dari berbagai latar belakang dan generasi. Nama-nama yang dijadwalkan tampil antara lain Sawung Jabo, Setiawan Djody, Butet Kartaredjasa, Didi Nini Thowok, Suzan Piper, Untung Basuki, Dewo, Rere Grass Rock, Grisella, Sri Krishna Encik, Ine Arini Bastaman, Sruti Respati, Fajar Satriadi, D.S. Priyadi, Herman Aga, dan Iwan Burnani Toni.
Sejumlah tokoh lain, seperti M.S. Kaban, Wiranto, Eep Saefulloh Fatah, Sandrina Malakiano, Romo Hartono, Farchan Asy’ary, dan Eddie Karsito, juga disebut akan terlibat dalam rangkaian pertunjukan.
Sementara itu, unsur musik akan diperkuat oleh ansambel Sirkus Barock, Punden MusikPuisi, dan Merah Putih Band.
Humas konser, Eddie Karsito, mengatakan kekuatan pertunjukan terletak pada pertemuan para seniman yang memiliki hubungan dengan perjalanan kesenian Rendra, bersama para pelaku seni dari generasi berikutnya.
“Konser ini laksana reuni akbar spiritual karena melibatkan langsung para murid, sahabat dekat, hingga musisi legendaris lintas generasi yang pernah bersinggungan langsung dengan napas kesenian Rendra,” terang Eddie.
Perpaduan musik rock, balada, etnik, pembacaan puisi, dan teater diharapkan menghadirkan pengalaman pertunjukan yang beragam. Pembacaan puisi oleh sejumlah tokoh juga menjadi bagian penting untuk menghidupkan kembali pesan dalam karya-karya Rendra.
Bagi Sruti Respati, keterlibatannya dalam konser ini bukan sekadar menjalankan tugas sebagai manajer produksi sekaligus penampil. Proyek tersebut juga berkaitan dengan perjalanan pribadinya di dunia kesenian.
Sruti pernah terlibat dalam produksi Suluk Hijau bersama Bengkel Teater pada 2007–2008 dan kembali berproses dalam Panembahan Reso pada 2020.
Ia mengingat pengalaman belajar bersama Rendra sebagai salah satu titik penting dalam pembentukan karakter artistiknya. Nilai disiplin, komitmen, dan integritas yang didapat selama berproses di Bengkel Teater terus ia bawa dalam kegiatan berkesenian.
“Disiplinnya itu enggak dengan hal yang keras, tetapi komitmen dan integritas. Nilai-nilai itu saya ambil, saya aplikasikan dalam dunia berkesenian saya, lalu juga saya tularkan kepada komunitas-komunitas yang memang ada di lingkaran saya,” tutur Sruti.
Dalam penyelenggaraan konser ini, Sruti turut menjembatani kolaborasi antara Yayasan Bengawan Solo Gong dan komunitas kreatif Solo Kreatif untuk mendukung kebutuhan produksi.
Ia juga dijadwalkan tampil membawakan tembang doa yang dipilihkan oleh Iwan Burnani Toni sebagai bentuk penghormatan kepada Rendra.
Bagi Sruti, kesempatan tersebut menjadi momen untuk mengenang gurunya sekaligus merawat nilai-nilai kesenian yang diwariskan kepada para muridnya.
“Salah satunya akan saya naikkan sebuah tembang doa untuk beliau di tanggal 9 November nanti,” katanya.
Konser ini turut menjadi bagian dari upaya Yayasan Bengawan Solo Gong membangun ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, akademisi, dan pencinta seni.
Yayasan yang didirikan di Sukoharjo pada 29 September 2026 tersebut diharapkan menjadi wadah untuk merawat sekaligus mengembangkan seni budaya Nusantara melalui kegiatan yang berkelanjutan.
Melalui konser Mengolah Daya Hidup, para penggagas ingin menunjukkan bahwa karya W.S. Rendra tetap dapat dibaca dan dihadirkan dalam konteks kehidupan masa kini.
Reuni para murid dan sahabat, pertemuan lintas generasi, serta kolaborasi berbagai genre seni menjadi jalan untuk menjaga agar pemikiran dan semangat berkesenian Rendra tidak berhenti sebagai kenangan.
Pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada Senin, 9 November 2026, di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. (jn02)
