Lonjakan ODGJ di Semarang 2025, Rumah Singgah dan RS Jiwa Alami Overload

0

Jumlah ODGJ di Semarang meningkat sepanjang 2025.

ODGJ ILUSTRASI

Lonjakan ODGJ di Semarang 2025, Rumah Singgah dan RS Jiwa Alami Overload. (JATENGNOW/dok)

SEMARANG, JATENGNOW.COM – Kenaikan jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kota Semarang sepanjang tahun 2025 mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Lonjakan kasus gangguan mental membuat fasilitas penampungan sosial hingga rumah sakit jiwa mengalami kelebihan kapasitas.

Salah satu fasilitas yang terdampak adalah Rumah Singgah UPTD Among Jiwo milik Pemerintah Kota Semarang. Tempat yang semestinya hanya mampu menampung sekitar 40 hingga 50 orang itu kini dihuni lebih dari 70 ODGJ terlantar.

Sebagian besar penghuni merupakan hasil penjangkauan dari razia jalanan maupun laporan masyarakat. Kondisi tersebut membuat pengelola harus mencari solusi darurat untuk menambah ruang penampungan.

Kepala UPTD Among Jiwo, Setiyani Eka Ambarsari, mengungkapkan bahwa kondisi penuh sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Bahkan pada tahun 2013 lalu, jumlah penghuni sempat mencapai sekitar 150 orang yang terdiri dari ODGJ dan lansia terlantar.

“Sekarang jumlah penghuni sekitar 76 orang. Kondisi penuh sudah berlangsung cukup lama,” ujarnya.

Akibat kapasitas yang tidak lagi mencukupi, dua rumah dinas milik kepala UPTD dan pegawai Among Jiwo terpaksa dialihfungsikan menjadi tempat penampungan tambahan.

Langkah tersebut dilakukan agar para ODGJ terlantar tetap mendapatkan tempat tinggal sementara sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari dinas terkait.

Lonjakan kasus gangguan jiwa di Semarang juga terlihat dari tingginya kunjungan pasien ke RSJD Dr. Amino Gondohutono.

Rumah sakit jiwa tersebut mencatat rata-rata kunjungan mencapai 2.000 pasien setiap bulan. Dalam satu tahun, jumlah pemeriksaan diperkirakan menembus 26 ribu pasien.

Sementara itu, kapasitas rawat inap di rumah sakit tersebut juga nyaris penuh. Saat ini sekitar 205 pasien menjalani perawatan setiap hari, mayoritas merupakan pasien dengan gangguan jiwa berat.

Faktor Ekonomi dan Sosial Jadi Pemicu

Tenaga medis menyebut meningkatnya kasus kesehatan mental dipengaruhi berbagai faktor. Tekanan ekonomi, persoalan sosial, konflik keluarga, masalah asmara, hingga stres pada usia produktif menjadi pemicu dominan.

Fenomena tersebut juga terjadi pada kalangan remaja dan anak muda. Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan adanya peningkatan kasus gangguan mental pada usia 15 hingga 24 tahun.

Tercatat sedikitnya ada 935 kasus gangguan mental pada kelompok usia tersebut. Sekitar 29 persen di antaranya bahkan mengalami depresi klinis yang membutuhkan penanganan serius.

Sebagai upaya penanganan, Pemerintah Kota Semarang bersama Dinas Kesehatan mulai memperkuat layanan kesehatan jiwa di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

Selain itu, pelatihan deteksi dini gangguan mental juga mulai diperluas agar kasus kesehatan jiwa dapat ditangani lebih cepat sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Masyarakat juga diminta aktif melaporkan apabila menemukan ODGJ terlantar atau meresahkan di lingkungan sekitar. Pemkot Semarang menyediakan layanan darurat Call Center 112 guna membantu proses evakuasi dan penanganan.

Meningkatnya jumlah ODGJ di Semarang kini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah. Persoalan kesehatan mental dinilai tidak lagi sekadar masalah individu, tetapi juga berkaitan erat dengan tekanan sosial dan ekonomi masyarakat perkotaan yang semakin kompleks.(JN01)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *