Kecurangan SNBT 2026 Capai 1.751 Kasus, Hampir 99 Persen Terjadi di Prodi Kedokteran
Kemendiktisaintek mengungkap 1.751 kasus kecurangan SNBT 2026. Hampir 99 persen terjadi pada peserta pemilih Prodi Kedokteran dengan modus joki hingga alat elektronik.
Kecurangan SNBT 2026 Capai 1.751 Kasus, Hampir 99 Persen Terjadi di Prodi Kedokteran. (jatengnow/ilustrasi-dok)
JAKARTA, JATENGNOW.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengungkap adanya 1.751 kasus kecurangan dalam pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena hampir seluruh pelanggaran diketahui dilakukan oleh peserta yang memilih Program Studi Kedokteran di berbagai perguruan tinggi negeri.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyebut persentase kecurangan pada prodi favorit tersebut mencapai angka sangat tinggi.
“Sebagian besar mungkin hampir semuanya 99 persen itu adalah Fakultas Kedokteran,” ujar Brian usai konferensi pers pengumuman SNBT 2026 di Jakarta, Senin (25/5).
Kemendiktisaintek menemukan berbagai modus kecurangan SNBT yang digunakan peserta selama pelaksanaan SNBT 2026.
Beberapa di antaranya meliputi penggunaan joki ujian, manipulasi lokasi tes, hingga pemanfaatan alat elektronik untuk membantu peserta menjawab soal.
Selain itu, panitia juga menemukan indikasi peserta sengaja memilih lokasi ujian tertentu untuk mempermudah praktik kecurangan.
“Modus-modusnya itu Fakultas Kedokteran, lokasi tempat ujian, kemudian penggunaan alat elektronik dan joki,” jelas Brian.
Fenomena ini menunjukkan tingginya persaingan masuk Fakultas Kedokteran yang selama ini dikenal menjadi salah satu program studi paling diminati di Indonesia.
Teknologi AI dan Face Recognition Diterapkan
Untuk mengantisipasi praktik curang, panitia SNBT 2026 mulai memperkuat sistem pengawasan berbasis teknologi.
Salah satu langkah yang diterapkan yakni penggunaan face recognition atau pengenalan wajah untuk memastikan identitas peserta sesuai dengan data resmi.
Tak hanya itu, panitia juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dikombinasikan dengan basis data foto peserta dari tahun-tahun sebelumnya.
Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi indikasi penggunaan joki maupun manipulasi identitas saat ujian berlangsung.
Pemerintah berharap penguatan sistem pengawasan digital dapat meminimalkan kecurangan dan menjaga kredibilitas pelaksanaan SNBT sebagai jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Program Studi Kedokteran setiap tahun memang menjadi salah satu jurusan dengan tingkat persaingan tertinggi di Indonesia.
Tingginya minat peserta sering kali tidak sebanding dengan jumlah kursi yang tersedia, sehingga memicu sebagian oknum melakukan berbagai cara ilegal agar bisa lolos seleksi.
Kemendiktisaintek menegaskan akan terus meningkatkan pengawasan serta menindak tegas peserta yang terbukti melakukan pelanggaran selama proses seleksi nasional berlangsung.(JN01)
