Bukan Sekadar Demo, Begini Cara BEM Solo Raya Kawal Isu Nasional
SOLO, JATENGNOW.COM – Aktivitas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di wilayah Solo Raya dinilai semakin responsif dalam menyikapi berbagai persoalan nasional. Gerakan mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui aksi turun ke jalan, tetapi juga diawali kajian dan konsolidasi.
Ketua Dema UIN Surakarta sekaligus mahasiswa Fakultas Syariah UIN Surakarta, Muhammad Al Maliki, menilai perkembangan gerakan BEM Solo Raya menunjukkan tren positif.
“Berbicara mengenai perkembangan gerakan BEM Solo Raya per hari ini cukup bagus, baik secara sikap maupun pemikiran. Kami melihat sikap BEM Solo Raya ketika menghadapi isu atau perubahan cukup tanggap,” kata Maliki saat ditemui di Solo, Jumat (22/8/2026).
Menurut Maliki, kajian isu hingga aksi penyampaian aspirasi menjadi bagian dari cara mahasiswa merespons berbagai persoalan. Ia mencontohkan aksi yang digelar pada Juli 2026 sebagai salah satu bentuk gerakan mahasiswa dalam menyampaikan kritik.
Bagi Maliki, mahasiswa Solo Raya tidak hanya menjadi penonton terhadap persoalan yang terjadi di tingkat nasional. Sejumlah kebijakan pemerintah menjadi bahan diskusi dan kajian sebelum mahasiswa menentukan sikap.
Salah satu isu yang mendapat perhatian yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, mahasiswa juga menyoroti sejumlah agenda legislasi dan kebijakan pemerintah lainnya.
“Per hari ini kami masih fokus terhadap MBG. Kemudian ada hal lain seperti Undang-Undang Polri yang saat itu memang sedang hangat kami perbincangkan. Kami juga masih menyoroti kemauan untuk disahkannya Undang-Undang Perampasan Aset,” ujarnya.
Perbedaan Pandangan Dinilai Wajar
Maliki mengakui adanya perbedaan pandangan di kalangan mahasiswa dalam menyikapi isu tertentu. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi dan gerakan mahasiswa.
Ia mencontohkan isu MBG. Sebagian mahasiswa menilai program tersebut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, sementara kelompok lainnya menilai masih diperlukan perbaikan dalam sistem tata kelolanya.
“Dinamika perbedaan itu pasti ada,” katanya.
Di tengah munculnya anggapan bahwa aksi mahasiswa dapat ditunggangi kepentingan politik tertentu, Maliki menegaskan bahwa gerakan BEM Solo Raya selama ini dibangun dari proses internal mahasiswa.
Sebelum aksi digelar, mahasiswa terlebih dahulu melakukan konsolidasi dan membahas isu yang akan dibawa. Struktur aksi kemudian disiapkan, termasuk pembagian tugas bagi koordinator lapangan, tim media, konsumsi hingga akomodasi.
“Kami melihat gerakan-gerakan yang ada di Solo Raya memang murni daripada gerakan mahasiswa. Sebelum melakukan aksi turun ke jalan, kami sudah mengadakan konsolidasi,” jelasnya.
Menurut mahasiswa semester tujuh tersebut, keterlibatan berbagai perguruan tinggi juga menjadi bagian dari dinamika gerakan BEM Solo Raya.
Ia menyebut kegiatan mahasiswa tidak hanya diikuti perguruan tinggi negeri, tetapi juga mahasiswa dari sejumlah kampus swasta di wilayah Solo Raya.
“Tidak hanya dari kampus perguruan tinggi negeri, tetapi dari kampus-kampus swasta juga hadir untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang selama ini dilakukan oleh BEM Solo Raya,” ungkapnya.
Aksi Jalanan Bukan Pilihan Pertama
Dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, Maliki mengatakan jalur dialog tetap harus dikedepankan. Audiensi dengan pemerintah maupun pejabat terkait menjadi langkah yang dapat ditempuh sebelum mahasiswa memutuskan turun ke jalan.
“Ketika memang hal-hal tersebut masih bisa kita audiensikan, sebisa mungkin kita melaksanakan audiensi dengan pemerintah ataupun pejabat terkait yang membuat kebijakan tersebut,” tuturnya.
Jika ruang dialog tidak menghasilkan respons yang diharapkan, aksi penyampaian aspirasi dapat dilakukan. Namun, aksi tersebut harus tetap terorganisasi dan konstitusional.
Konsolidasi sejak awal juga menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk mencegah munculnya provokasi. Para koordinator memiliki peran menjaga peserta aksi agar tetap berada dalam koridor yang telah disepakati.
Apabila terdapat pihak yang berusaha memancing kericuhan, koordinator diminta segera mengambil langkah untuk meredam situasi. Bahkan, penarikan massa dapat dilakukan apabila kondisi sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan aksi.
Mahasiswa Diminta Tak Mudah Terprovokasi
Maliki juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah mengikuti isu yang beredar tanpa melakukan pemeriksaan dan kajian terlebih dahulu.
Menurutnya, derasnya arus informasi di berbagai platform membuat mahasiswa harus lebih kritis dalam memilah informasi sebelum menentukan sikap.
“Identifikasi isu, tentu kita harus mengidentifikasi apakah isu yang berkembang hari ini di berbagai platform media sudah cukup banyak itu diidentifikasi dengan kajian-kajian mendalam,” ujarnya.
Ia juga meminta mahasiswa tetap mengedepankan etika ketika menyampaikan kritik. Sebagai kelompok terdidik, organisasi mahasiswa dinilai harus mampu menyampaikan aspirasi secara santun.
“Ketika kita menyampaikan dengan sopan dan santun, hal ini membuat warga atau pihak lain tetap percaya kepada BEM,” katanya.
Selain itu, aspirasi harus disampaikan kepada pihak yang memiliki kewenangan agar kritik maupun tuntutan mahasiswa dapat ditindaklanjuti secara tepat.
Ke depan, Maliki berharap BEM di Solo Raya semakin solid dan mampu memperkuat komunikasi antarkelompok. Menurutnya, konsolidasi internal penting untuk menjaga gerakan mahasiswa tetap independen sekaligus mencegah masuknya kepentingan dari luar.
“Harapan saya tentu ke depan kawan-kawan dari BEM Solo Raya tetap solid dan bersinergi,” pungkasnya. (jn02)
