Edy Wuryanto Tekankan Peran Ayah Cegah Stunting, Bukan Sekadar Pencari Nafkah

0
image

Edy Wuryanto Tekankan Peran Ayah Cegah Stunting, Bukan Sekadar Pencari Nafkah (JatengNOW/Dok)

REMBANG, JATENGNOW.COM – Anggota DPR RI Komisi IX, Edy Wuryanto, menegaskan keterlibatan ayah menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan stunting. Tanggung jawab ayah tidak cukup hanya mencari nafkah, tetapi juga mendampingi istri selama kehamilan, memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, serta terlibat dalam pengasuhan sejak usia dini.

Pesan tersebut disampaikan Edy dalam kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Pendopo R.A. Kartini, Kabupaten Rembang, Minggu (25/10/2026). Kegiatan itu dihadiri Bupati Rembang H. Harno, jajaran Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, serta sejumlah organisasi kepemudaan.

Edy menyoroti anggapan di masyarakat yang masih menempatkan urusan kehamilan, kesehatan anak, dan pemenuhan gizi sebagai tanggung jawab utama ibu. Padahal, upaya mencegah stunting membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga, terutama ayah.

Menurutnya, masih ada suami yang lebih berfokus pada pekerjaan, tetapi kurang mendampingi istri saat hamil, tidak menemani pemeriksaan kesehatan, dan kurang terlibat dalam menyiapkan makanan bergizi bagi anak. Kebiasaan merokok di dalam rumah juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan anggota keluarga.

Edy turut mengingatkan pentingnya mengatur prioritas pengeluaran rumah tangga. Kebutuhan gizi ibu dan anak harus menjadi perhatian, seiring dengan penggunaan pendapatan untuk kebutuhan lainnya.

“Melalui Gerakan Ayah Peduli Stunting, diharapkan peran serta ayah dalam keluarga ini lebih maksimal,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental perempuan, terutama selama kehamilan. Pemenuhan gizi, dukungan emosional dari keluarga, dan pengelolaan stres menjadi bagian yang perlu diperhatikan untuk mendukung kesehatan ibu serta tumbuh kembang anak.

Kepedulian, lanjutnya, juga perlu diperluas ke lingkungan sekitar. Masyarakat diharapkan ikut membantu ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi atau menghadapi kesulitan ekonomi.

“Kalau ada tetangga yang hamil, mengalami kekurangan gizi, dan berasal dari keluarga kurang mampu, mari kita bantu melalui gerakan gotong royong untuk mencegah stunting,” ajaknya.

Salah satu peserta, Pranghono, mengungkapkan bahwa pembagian peran dalam rumah tangga masih kerap menempatkan suami sebagai pencari nafkah, sedangkan urusan makanan, kesehatan, dan kebutuhan anak lebih banyak dibebankan kepada istri.

Ia mencontohkan, uang Rp20.000 terkadang lebih mudah digunakan suami untuk membeli sebungkus rokok. Sementara itu, ibu cenderung mempertimbangkan bagaimana uang dengan nominal yang sama bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.

Menurut Pranghono, pola tersebut berkaitan dengan kebiasaan pembagian tanggung jawab rumah tangga. Suami merasa telah memenuhi kewajibannya dengan bekerja, sedangkan istri memikul porsi lebih besar dalam mengelola kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, ia menilai keterlibatan ayah dalam urusan keluarga perlu diperkuat. Dengan begitu, tanggung jawab pengasuhan dan pemenuhan gizi tidak hanya bertumpu pada ibu.

Sementara itu, Bupati Rembang H. Harno mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kualitas keluarga, kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, serta kemampuan orang tua dalam mendidik dan melindungi anak juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pembangunan.

Menurut Harno, Program Bangga Kencana memiliki peran strategis dalam membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan sejahtera. Keluarga menjadi fondasi pembangunan bangsa karena lingkungan yang sehat dan harmonis dapat mendukung tumbuhnya generasi yang cerdas, berkarakter, produktif, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Ia menegaskan, percepatan penurunan stunting, peningkatan kesadaran kesehatan reproduksi, pelayanan keluarga berencana, dan pendampingan keluarga berisiko stunting harus terus diperkuat.

“Kita perlu memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang benar, pelayanan yang mudah dijangkau, serta pendampingan yang berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Rembang menyadari bahwa keberhasilan program ini tidak dapat dicapai oleh pemerintah semata,” ujar Harno.

Harno mengajak pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat pembangunan keluarga demi menyiapkan generasi masa depan dan mewujudkan Rembang yang maju serta sejahtera.

Melalui kegiatan tersebut, keterlibatan ayah diharapkan semakin meningkat, mulai dari mendampingi ibu hamil, memperhatikan kecukupan gizi anak, menjaga kesehatan lingkungan rumah, hingga berbagi tanggung jawab pengasuhan dengan pasangan.

Pencegahan stunting membutuhkan kerja sama keluarga dan lingkungan yang didukung oleh layanan kesehatan serta program pemerintah. Keterlibatan ayah dan ibu secara seimbang diharapkan membantu pemenuhan kebutuhan gizi dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *