September 16, 2026

Polres Sukoharjo Gandeng Densus 88 dan Jatanras, 12 Saksi Diperiksa dalam Kasus Pembakaran Warung Mi dan Babi

0
image

Warung Mie dan Babi di Sukoharjo Dibakar 4 Orang Tak Dikenal, Karyawan Ditodong Sajam (JatengNOW/Dok)

SUKOHARJO, JATENGNOW.COM – Polisi terus mendalami kasus pembakaran Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Hingga Selasa (15/9/2026), Sat Reskrim Polres Sukoharjo telah memeriksa 12 saksi untuk mengungkap rangkaian kejadian, identitas pelaku hingga motif di balik aksi pembakaran tersebut.

Dalam penyelidikan kasus ini, Polres Sukoharjo juga menggandeng Densus 88 Antiteror Polri dan Jatanras Polda Jawa Tengah untuk membantu proses pendalaman.

Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo mengatakan, pemeriksaan terhadap para saksi masih terus dilakukan. Penyidik juga mengembangkan berbagai petunjuk yang ditemukan di lokasi kejadian.

“Untuk perkembangan penyidikan, sampai saat ini penyidik Sat Reskrim Polres Sukoharjo telah memeriksa 12 saksi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendalami rangkaian kejadian, mengidentifikasi para pelaku serta mengungkap motif di balik aksi pembakaran,” ujar AKBP Anggaito, Selasa (15/9).

Selain mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti, penyidik menggandeng Densus 88 dan Jatanras untuk membantu pendalaman perkara.

“Polres Sukoharjo juga menggandeng Densus 88 dan Jatanras dalam proses pendalaman kasus ini. Namun, kami masih terus melakukan penyelidikan dan belum dapat menyimpulkan motif maupun keterlibatan pihak tertentu sebelum seluruh rangkaian pemeriksaan selesai,” jelasnya.

Salah seorang saksi, Ali (32), mengaku mengalami langsung aksi para pelaku saat pembakaran terjadi pada Sabtu (12/9/2026) dini hari.

Ali mengatakan, dirinya sedang berada di kamar ketika tiba-tiba pintu kamar didobrak. Ia kemudian ditarik keluar dan ditodong menggunakan pisau.

“Saya waktu itu di kamar. Tiba-tiba kamar saya didobrak, kemudian saya ditarik keluar. Saya ditodong, jangan lihat, pakai pisau,” kata Ali.

Dalam kondisi gelap, Ali memperkirakan terdapat sekitar empat orang di lokasi. Para pelaku disebut mengenakan pakaian tertutup, di antaranya helm dengan penutup kepala, jaket panjang dan celana panjang.

Salah satu pelaku yang dilihat Ali diperkirakan memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter dengan postur tubuh sedang.

Ali menduga pelaku telah mengetahui kondisi dan titik-titik di lokasi karena kamar yang ditempatinya justru menjadi sasaran pertama.

“Yang pertama dituju kamar saya. Mungkin sudah direncanakan, sudah tahu titik-titiknya,” ungkapnya.

Menurut Ali, salah seorang pelaku mendobrak kamar dan menariknya keluar. Pelaku lainnya kemudian merusak monitor dan perangkat CCTV, sedangkan dua orang lainnya melakukan pembakaran.

Sejumlah bagian warung ikut dibakar, termasuk sepeda motor, gudang dan kamar. Perangkat CCTV yang berada di lokasi juga dirusak dan dibakar.

“Yang dua orang itu yang membakar,” katanya.

Setelah melakukan aksi, para pelaku meninggalkan lokasi. Ali mengaku sebelum pergi dirinya diminta menghitung hingga angka 1.000 dengan suara keras.

Namun, baru sekitar menghitung sampai angka 30, Ali mengetahui para pelaku sudah pergi.

Karena telepon selulernya dibawa pelaku, Ali kemudian berlari menuju pabrik yang berada di sebelah warung untuk meminta bantuan sekuriti.

Petugas keamanan bersama karyawan pabrik sempat berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, api semakin membesar hingga dua unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi.

Pemilik warung, Jodi Sutanto, mengungkapkan bahwa sebelum insiden pembakaran memang pernah muncul penolakan terhadap keberadaan usahanya.

Bahkan, aksi demonstrasi sempat berlangsung pada April 2026. Namun setelah itu, situasi di sekitar warung disebut kembali kondusif.

Jodi mengaku tidak menyangka persoalan tersebut kemudian berujung pada pembakaran.

“Setelah itu silent, nggak ada kabar. Tahu-tahu sampai terjadi seperti ini. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda sama sekali, bahkan kita tidak berpikir sampai begini,” kata Jodi.

Ia menyebut persoalan yang sebelumnya dipermasalahkan berkaitan dengan penjualan makanan nonhalal.

Jodi mengklaim seluruh perizinan usaha telah dilengkapi dan informasi mengenai produk nonhalal juga telah dicantumkan.

“Permasalahannya cuma satu, kita tidak boleh jualan nonhalal dan disuruh tutup karena masyarakat di sana mayoritas Muslim. Kalau perizinan kita sudah lengkap,” ujarnya.

Meski demikian, Jodi tidak mau berspekulasi mengenai pihak yang diduga berada di balik pembakaran. Ia menyerahkan pengungkapan kasus sepenuhnya kepada kepolisian.

“Saya tidak bisa mengatakan siapa dan siapanya. Nanti biar pihak kepolisian saja yang menyelesaikan,” katanya.

Jodi berharap polisi segera mengungkap pelaku dan memprosesnya sesuai ketentuan hukum.

“Kita tetap mendukung Polres Sukoharjo untuk bisa segera mengungkap masalah ini. Harapannya pihak kepolisian bisa segera menemukan para pelaku dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan,” ujarnya.

Sementara itu, penyidik masih mengembangkan sejumlah petunjuk yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP). Keterangan para saksi yang mengetahui aktivitas pelaku sebelum maupun ketika pembakaran juga terus didalami.

Hingga Selasa (15/9/2026), lokasi warung masih dipasangi garis polisi. Pemeriksaan TKP masih berlangsung sehingga aktivitas usaha untuk sementara dihentikan.

Polres Sukoharjo memastikan penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap perkara tersebut secara terang, termasuk menemukan pihak yang bertanggung jawab atas aksi pembakaran. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *