Purbaya Optimistis Rupiah Menguat, Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kokoh

0
20260609_MK-PYS_Rapat-Kerja-Banggar-DPR-RI-terkait-Penyampaian-KEM-PPKF-2027-dan-Pembentukan-Panja__202606090020013-Large

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa (JatengNOW/Dok. kemenkeu.go.id)

JAKARTA, JATENGNOW.COM – Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurut Menkeu, meskipun tekanan ekonomi global masih terjadi, berbagai indikator ekonomi nasional menunjukkan kinerja yang positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, sementara tingkat inflasi pada Mei 2026 tetap terkendali di angka 3,08 persen secara tahunan (year-on-year).

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus dengan cadangan devisa yang dinilai cukup kuat, setara dengan 5,6 bulan impor.

“Demikian pula dengan kinerja sektor manufaktur yang menunjukkan perbaikan pada bulan Mei 2026, mengindikasikan penguatan aktivitas produksi dan menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujar Purbaya.

Memasuki Triwulan II 2026, kondisi ekonomi domestik juga terus menunjukkan tren yang membaik. Optimisme masyarakat tetap terjaga, tercermin dari meningkatnya aktivitas belanja berdasarkan Mandiri Spending Index serta Indeks Keyakinan Konsumen yang dirilis oleh Bank Indonesia.

Sejumlah indikator konsumsi dan aktivitas ekonomi juga mengalami peningkatan, seperti penjualan mobil, sepeda motor, konsumsi listrik, hingga penggunaan semen yang menunjukkan geliat pembangunan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan akibat sentimen global dan sikap hati-hati investor di pasar keuangan internasional. Namun demikian, pemerintah optimistis kondisi tersebut akan membaik pada semester kedua tahun ini.

“Pemerintah optimistis dengan sinergi dan koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, disertai perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor serta pendalaman pasar keuangan, akan memperkuat pasokan valuta asing dalam negeri dan meningkatkan kepercayaan investor sehingga rupiah dapat kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” jelasnya.

Menkeu juga mengungkapkan bahwa arus modal asing mulai menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang Triwulan II 2026, khususnya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Meski pasar saham masih mencatat arus keluar modal (outflow), minat investor terhadap instrumen keuangan domestik dinilai tetap terjaga.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah terus menjalankan berbagai kebijakan strategis. Langkah tersebut meliputi menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) dan pangan, memastikan ketersediaan energi serta beras nasional, menjaga disiplin fiskal, mempercepat penyerapan belanja negara, hingga memberikan stimulus guna mendukung daya beli masyarakat dan dunia usaha.

“Kuatnya fundamental ekonomi domestik dan didukung kebijakan yang semakin solid menjadi landasan yang kokoh untuk menyongsong dinamika tahun 2027,” pungkas Purbaya.

Pemerintah optimistis kombinasi stabilitas ekonomi, penguatan investasi, serta konsumsi masyarakat yang tetap terjaga akan menjadi modal penting dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih berlangsung. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *