Resmi Jadi Guru Besar, Katno Hadi Soroti Potensi Integrated Tourism di Solo Raya

0
IMG-20260809-WA0032

SOLO, JATENGNOW.COM – Prof. Dr. KP. H. Katno Hadi, S.E., M.M., M.H. resmi dikukuhkan sebagai guru besar di ASEAN University International, Malaysia, pada 4 Agustus 2026.

Usai prosesi pengukuhan, Katno Hadi menegaskan gelar profesor yang diperolehnya membawa tanggung jawab baru, khususnya dalam bidang ekonomi dan bisnis.

Hal tersebut disampaikan Katno Hadi saat ditemui di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, sebagai guru besar terdapat sejumlah tanggung jawab akademik yang harus dijalankan. Di antaranya menjalankan peran sebagai dosen senior, membimbing mahasiswa, mengembangkan penelitian, menerbitkan hasil riset dalam jurnal, hingga melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Guru besar itu punya tujuh yang harus dijalankan. Termasuk salah satunya sebagai dosen senior. Kemudian juga harus mengembangkan riset dan nantinya dimasukkan dalam jurnal, dan banyak lainnya. Termasuk harus pengabdian kepada masyarakat,” kata Katno Hadi.

Pria yang juga Ketua Umum Senkom Mitra Polri tersebut menyadari tanggung jawab tersebut tidak ringan. Namun, Katno memilih melihatnya sebagai bagian dari proses untuk terus mengembangkan pengetahuan sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Dari sisi tugas ada tujuh tadi. Tinggal bagaimana menjalankannya. Kita harus mengembangkan karena saya mengambilnya ekonomi bisnis. Tentunya dalam hal ini harus betul-betul dikembangkan,” ujarnya.

Fokus Pengembangan Ekonomi Bisnis Solo Raya

Katno Hadi mengatakan penelitian yang selama ini dilakukannya juga banyak berkaitan dengan wilayah Solo Raya.

Bahkan, penelitian tersebut telah dilakukan sejak dirinya menempuh pendidikan doktoral, termasuk ketika pandemi Covid-19. Salah satu fokus kajiannya adalah pengembangan konsep integrated tourism atau pariwisata terintegrasi.

Menurutnya, konsep tersebut dapat menghubungkan berbagai potensi dalam satu kawasan, mulai dari destinasi wisata, hotel, UMKM, wisata edukasi, kuliner, hingga pusat oleh-oleh.

“Judul saya tentang integrated tourism. Bagaimana tourism itu dibangun, di situ memang UMKM ada, kemudian hotelnya ada, tempat wisata edukasinya ada,” jelasnya.

Pemilik D’Gondangrejo Resto & Resort dan D’Lawu Bistro & Mountain Cottage itu menilai Solo Raya memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui konsep tersebut. Namun, diperlukan konektivitas yang lebih baik antarwilayah dan destinasi.

Ia mencontohkan wisatawan yang datang ke Solo sebenarnya dapat diarahkan menikmati sejumlah destinasi secara terintegrasi, mulai dari Keraton Surakarta, kawasan Tawangmangu, Kemuning, wisata alam, kuliner hingga pusat oleh-oleh.

“Sekarang ini masih putus-putus. Orang datang ke Solo, kulinernya Solo, wisata budayanya oke. Tapi ketika mau ke Tawangmangu atau ke pegunungan harus cari shuttle sendiri. Jadi belum terkoneksi dengan baik,” katanya.

Karena itu, menurut Katno, pengembangan pariwisata terintegrasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.

“Ini butuh sebuah kebijakan pemerintah. Kalau dari sisi swasta sendiri membuat seperti itu tentunya agak berat, karena membutuhkan kolaborasi,” tuturnya.

Berencana Kembangkan Kampus di Solo

Selain pengembangan riset, Katno Hadi juga menyampaikan rencana pengembangan institusi pendidikan di Kota Solo.

Ia mengatakan homebase akademiknya berada di Universitas PRISMA Manado. Ke depan, dirinya berharap dapat membuka cabang Universitas PRISMA di Solo.

“Saya akan membuka cabang PRISMA di Solo. Karena saya juga ada join di Manado, namanya Universitas PRISMA,” ungkapnya.

Katno menegaskan, gelar guru besar bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan amanah untuk terus belajar dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Ia berharap ilmu di bidang ekonomi bisnis yang dimilikinya dapat terus dikembangkan melalui penelitian, pendidikan, kegiatan sosial, serta praktik bisnis yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. (jn02)

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *