Mahasiswa dari 14 Negara Belajar Langsung Seni Ukir Jepara, Bawa Pulang Pengalaman Budaya Indonesia
Mahasiswa dari 14 Negara Belajar Langsung Seni Ukir Jepara, Bawa Pulang Pengalaman Budaya Indonesia (JatengNOW/Dok)
JEPARA, JATENGNOW.COM – Seni ukir Jepara menjadi pengalaman baru bagi 25 mahasiswa dari 14 negara yang mengikuti pelatihan di Galeri Jepara Wood Carving, Kamis (20/8/2026).
Salah satunya Sayed Rahman Hamid, mahasiswa asal Afganistan. Untuk pertama kalinya, ia memegang pahat dan mencoba mengukir kayu dengan bimbingan langsung dari pengrajin Jepara.
Para peserta mendapatkan pendampingan dari 23 instruktur. Mereka terlebih dahulu dikenalkan dengan pola serta teknik dasar ukiran Jepara sebelum mulai memahat kayu.
“Sangat menarik, baru pertama kali ini,” kata Sayed, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Sayed mengaku sebelumnya tidak pernah mempelajari seni ukir di Afganistan. Pengetahuannya tentang pekerjaan kayu sebatas perbaikan rumah.
Pengalaman serupa dirasakan Aisha Jumma Mussa, mahasiswa asal Tanzania. Sebelum datang ke Jepara, ia hanya mengenal seni ukir Jepara melalui informasi yang diperolehnya dari internet.
Setelah mencoba sendiri, Aisha menyadari bahwa mengukir kayu membutuhkan ketekunan dan keterampilan tangan.
“Tidak bisa dipelajari dalam satu hari karena membutuhkan teknik dan kelenturan tangan,” ungkapnya.
Peserta lainnya, Huzairu Kanamwangi dari Uganda, mencoba membuat nama dan motif ukiran dengan didampingi instruktur.
Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga setelah belajar langsung dari pengukir Jepara.
Huzairu bahkan berencana membawa pengalaman tersebut ke negaranya dan memperkenalkan hasil karya yang dibuatnya sendiri.
“Saya akan membawa ini ke negara saya dan menunjukkan bahwa saya yang membuatnya. Dari Jepara, Indonesia,” ujarnya.
Salah satu instruktur, Rumini, mengatakan peserta tidak hanya diajarkan cara menggunakan pahat. Mereka juga diperkenalkan dengan pola khas ukiran Jepara serta sejumlah tahapan dasar dalam proses mengukir.
Tahapan tersebut antara lain ngrancapi, nglemahi, ngekoli, dan nyoreti.
“Yang ingin kami tanamkan bukan hanya keterampilan mengukir. Kami juga mengenalkan budaya Jepara yang terkenal sebagai kota ukir,” kata Rumini.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Summer Course 2026 Buja Sejana 2 yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Koordinator kegiatan, Wati Istanti, mengatakan program tersebut mengajak mahasiswa mempelajari budaya maritim melalui pembelajaran selama tiga bulan dengan metode blended.
Menurutnya, pembelajaran secara langsung diperlukan agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran daring, tetapi juga dapat melihat dan merasakan langsung budaya yang dipelajari.
“Supaya mahasiswa tidak sekadar tahu secara daring, kami mengajar secara luring untuk melihat dan mempraktikkan langsung,” ujarnya.
Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan mahasiswa internasional dengan para pengukir Jepara.
Interaksi tersebut dinilai dapat menjadi sarana memperkenalkan seni ukir Jepara kepada masyarakat internasional.
“Harapan kami mereka dapat menjadi duta budaya masyarakat Jepara,” ujarnya.
Hadi menambahkan, seni ukir Jepara telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015.
Pengenalan seni ukir kepada mahasiswa dari berbagai negara diharapkan turut memperkuat upaya pelestarian sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi ukir Jepara di tengah perkembangan zaman. (jn02)
